10 Penyakit Pertama Pada Bayi

Menjadi orang tua baru tentu membahagiakan. Namun, kebahagiaan terkadang berubah menjadi kepanikan tatkala si kecil mendadak sakit. Nah, ada baiknya Anda mengenali 10 penyakit pertama bayi, seperti dipaparkan Dr. Kusnandi Rusmil, Sp.A dari RS Hasan Sadikin, Bandung berikut ini. 1. BATUK-PILEK
Batuk-pilek pada bayi bisa karena banyak faktor. “Sebagian besar penyebabnya virus, yang jenisnya ada ratusan banyaknya. Biasanya sembuh sendiri, kok. Gejalanya, hidung berair, kadang tersumbat, lalu diikuti batuk dan demam.”
Selain virus, batuk-pilek juga bisa karena bakteri. Biasanya disertai panas dan gejalanya lebih berat, yaitu tenggorokan berwarna merah. Harus diberi antibiotik. Jika terus berlanjut, bisa berakibat komplikasi radang telinga tengah. “Namun, sakit telinga tak selalu terjadi pada batuk pilek.”
Jika cairan atau lendir banyak keluar dari hidung bayi dan membuat napas tersumbat, beri obat tetes hidung atau sedot cairan hidung dengan alat khusus. “Yang penting, penyebabnya dulu yang diobati. Karena virus belum ada obatnya, maka pertahanan tubuh si bayi-lah yang harus ditingkatkan.”
Biasanya, batuk-pilek pada bayi terjadi sekitar lima hari. Jika panas tubuh bayi tak turun-turun hingga 2 – 3 hari, segera bawa ke dokter. “Orang tua tak perlu cemas jika bayi batuk-pilek. Jika disertai panas, beri obat panas. Jangan lupa, beri nutrisi yang baik, terutama yang mengandung vitamin dan mineral, seperti buah-buahan atau jus, minum yang banyak, terutama ASI.”
2. INFEKSI TELINGA
Infeksi telinga dapat disebabkan batuk-pilek oleh virus yang terus-menerus, sehingga virus masuk ke dalam saluran telinga. “Bisa juga karena telinga kemasukan air yang mengandung kuman, sehingga mengakibatkan peradangan saluran telinga tengah.”
Gejalanya, sakit pada telinga dan panas yang tidak turun-turun selama 2 – 3 hari. “Harus segera dibawa ke dokter. Kalau tidak segera ditangani, gendang telinga bayi bisa meradang dan pecah.”
Jika tak diobati, lama-lama radang telinga akan makin parah dan dapat menimbulkan nanah. “Jika nanah pecah, cairan itu akan keluar dari telinga dengan bau yang tidak enak. Efek jangka panjangnya, sistem pendengaran rusak.”
3. DIARE
Seperti halnya batuk-pilek, diare pada bayi juga bisa karena bermacam faktor, dari makanan yang tercemar kuman atau virus, keracunan makanan, sampai alergi susu. Diare pada bayi umumnya dapat dilihat dari jumlah cairan yang keluar melalui buang air besar (BAB) yang lebih banyak dari cairan yang masuk. Frekuensi BAB-nya lebih dari tiga kali sehari. Jadi, harus diberi banyak cairan supaya tidak terjadi dehidrasi.
Pencegahannya, beri bayi minum, misalnya oralit, minuman yang mengandung ion, atau minuman yang mengandung probiotik, seperti yoghurt untuk membantu keseimbangan kuman dalam perut. “Bayi enam bulan sudah boleh, kok, diberi minuman mengandung ion atau probiotik.”
Kusnandi juga menegaskan, obat diare yang paling ampuh bagi bayi sebenarnya ASI, karena mengandung obat anti-virus atau kuman yang dapat mencegah dan mengurangi lamanya penyakit bersarang di dalam tubuh bayi.
Diare yang disertai demam, lanjut Kusnandi, paling sering disebabkan oleh virus. “Semua penyakit karena virus, tidak ada obatnya. Yang penting, meningkatkan daya tahan tubuh dan mengatasi kehilangan cairan tubuh dengan banyak-banyak minum, terutama ASI.”
Sementara diare disertai muntah, biasanya disebabkan karena rangsangan ke dalam saluran pencernaan. “Rangsangan itu bisa macam-macam, bisa oleh kuman atau racun zat kimia. Sekali lagi, yang penting adalah memberi minum yang banyak. Bisa juga diberi obat anti muntah oleh dokter,” kata Kusnandi seraya mengingatkan agar orang tua tidak memberi bayi obat pemampat feses atau tinja. “Jika tinja mampat, kuman enggak mati, malah berkumpul di dalam usus. Lebih baik kuman dikeluarkan dulu melalui BAB. Setelah kuman habis, otomatis diare akan berhenti dengan sendirinya,” kata Kusnandi mengingatkan.
4. BATUK PLUS SESAK NAPAS
Pada bayi yang memiliki potensi alergi atau asma, batuk pilek lama-lama bisa menimbulkan sesak napas. “Batuk-pilek ini terjadi akibat kuman yang lama-lama menyebar ke paru-paru. Bisa mengakibatkan gejala radang paru-paru, yaitu sesak napas,” ujar Kusnandi.
Jika sudah menyerang paru-paru, berarti sudah masuk ke tahap serius dan harus betul-betul diobati. “Tanda-tanda sesak napas ini dapat dilihat secara fisik, antara lain bayi bernapas lewat hidung, sehingga cuping hidung kembang-kempis, napasnya cepat, setiap bernapas seperti ada yang menariknya hingga dadanya cekung.”
Penanganan gejala-gejala serius ini harus lebih teliti. Bila perlu dirawat di RS untuk diberi oksigen. “Jika sudah sampai ke tahap serius, tak bisa lagi hanya diberi perawatan di rumah. Bisa bahaya dan harus segera ditolong dokter,” tegas Kusnandi.

5. SAKIT TENGGOROKAN

Sakit tenggorokan pada bayi bisa karena kuman atau virus yang menyerang tenggorokan. “Tanda-tanda fisiknya, tenggorokan berwarna merah, yang dapat terlihat di bagian leher. Bayi juga terlihat seperti kesakitan, rewel, dan biasanya sulit menelan.”
Jika disebabkan virus, biasanya dokter akan memberi obat pengurang rasa sakit, vitamin, dan dianjurkan diberi makan yang banyak, terutama jus buah, sayur bening, dan ASI, agar tubuhnya kembali kuat. Namun jika penyebabnya kuman, dokter akan memberi antibiotik. “Bisa berupa sirup atau puyer. Puyer lebih ekonomis dan dosisnya bisa lebih tepat, karena dihitung per kilogram berat badan bayi. Efektivitasnya, sih, sebenarnya sama saja dengan sirup.”
6. SEMBELIT
Penyebab sembelit bisa karena kurang makan makanan berserat. Oleh karena itu, bayi sebaiknya diberi banyak buah, sayuran, dan ASI. “Berikan puding atau agar-agar, buah-buahan, dan sayuran. Untuk bayi yang belum bisa makan, berilah ASI sebanyak mungkin. Biasanya, bayi yang masih minum ASI jarang sembelit, kecuali bayi yang diberi susu formula. Mungkin susunya kurang cocok.”
Untuk mengatasi sembelit, pilih susu yang cocok. “Sementara dokter biasanya akan memberi obat untuk melancarkan BAB-nya.” Namun, ada juga bayi baru lahir yang tak bisa buang air besar. “Keluhannya, perut kembung dan sering muntah. Itu karena saraf dari usus kurang, sehingga gerak peristaltiknya pun berkurang. Ini penyakit bawaan, harus dioperasi untuk membuang usus yang tidak ada sarafnya. Kasus seperti ini sering terjadi pada bayi baru lahir,” terang Kusnandi.
7. INFEKSI SALURAN KEMIH
Selain sulit BAB, infeksi saluran kemih juga sering terjadi pada bayi yang baru lahir. “Banyak terjadi pada bayi perempuan, karena saluran kemih perempuan lebih pendek dari saluran kemih bayi laki-laki, sehingga kuman lebih gampang masuk ke dalam tubuh. Jika bayi panas tanpa diserta batuk-pilek atau sakit telinga, orang tua harus selalu berpikir bahwa ini bisa saja sakit radang saluran kemih.”
Gejala infeksi saluran kemih hanya panas atau air kencingnya sedikit, dan bayi merasa nyeri di daerah perut atau kesakitan saat buang air kecil/kencing. “Kadang-kadang, radang atau infeksi saluran kemih ini tidak bergejala juga. Buang airnya pun normal. Justru jika gejala tak muncul, sangat berbahaya karena dapat merusak ginjal.” Oleh karena itu, jika bayi demam lebih dari 38,5 0 Celcius, segera periksakan ke dokter.
8. MUNTAH
Muntah atau gumoh disebabkan karena perut bayi yang baru lahir ukurannya masih sangat kecil. “Daya tampungnya masih sedikit. Kalau terlalu banyak diberi susu, dia akan memuntahkan susunya kembali.”
Oleh karena itu, untuk bayi yang diberi susu formula, pada saat disusui, posisi botol susu dan botol harus pas dengan mulutnya agar udara tidak ikut masuk ke dalam mulut bayi. Udara yang ikut masuk ini dapat menyebabkan bayi muntah. Sementara untuk bayi yang disusui ASI, posisi menyusui harus betul dan pas. Usai disusui, gendong bayi dengan posisi seperti berdiri hingga bersendawa. Setelah itu bayi ditidurkan dengan posisi miring ke kiri.
9. ALERGI
Banyak hal yang dapat menyebabkan alergi pada bayi. “Yang paling sering alergi susu sapi atau susu formula. Jika ibu atau keluarganya punya bakat alergi, bayi pun jadi gampang alergi. Sebagian besar alergi timbul karena makan telur, sea food, dan susu formula.”
Untuk menghindarinya, ibu menyusui sebaiknya menghindari konsumsi makanan alergen seperti telur, kacang-kacangan, sea food, atau makanan pemicu alergi. “Pasalnya, alergi ini dapat langusng terbawa melalui ASI. Dokter biasanya memberikan susu anti-alergi khusus untuk bayi yang memiliki bakat alergi atau alergi pada susu formula. Susu antialergi ini mudah didapat dan sudah banyak dijual, kok.”
10. RUAM POPOK
Usai buang air atau pipis, popok bayi harus segera diganti agar tidak menimbulkan iritasi atau merah-merah pada kulit bayi. Jika kulit bayi mengalami iritasi, kuman akan lebih mudah masuk ke dalam tubuh bayi. Untuk mencegahnya, gantilah popok sesering mungkin dan pakaikan pampers yang dapat menyerap banyak air.
Untuk popok kain, sebaiknya rajin-rajin mencuci popok. “Teknologi sudah semakin canggih, orang kini menciptakan pampers yang dapat menyerap air lebih banyak agar lebih praktis. Namun, bukan berarti bayi harus seharian pakai pampers yang itu-itu terus. Udara juga harus bisa keluar masuk, dong. Hanya saja, kelebihan pampers dapat mengurangi frekuensi pergantian popok, dibandingkan popok kain.”
Pengobatan untuk ruam popok, jika kulit bayi terkena popok basah, dapat diobati dengan memberikan bedak, talek, atau salep. “Tetapi yang paling penting harus sesering mungkin mengganti popok atau pampers. Artinya, kondisi kulit bayi harus tetap dalam keadaan kering.”
WASPADA BILA …
Selain 10 penyakit di atas, ada beberapa tanda pada bayi yang harus diwaspadai dan segera dibawa ke RS, antara lain:
1. Kejang
Jika bayi kejang disertai panas atau tanpa panas, harus segera di bawa ke RS untuk mengetahui penyebab kejangnya. Setiap kejang, akan mengakibatkan terjadinya kerusakan otak, sehingga bayi tidak boleh kejang. Jadi, secepatnya harus diatasi. Jika bayinya kejang disertai demam, orang tua harus selalu membawa obat anti panas dan anti kejang. Karena biasanya sakit kejang ini suka kambuh. Kemana pun si bayi pergi, harus selalu membawa obat anti kejang untuk mencegah kejang. Jangan sampai bayi sering kejang.
Pemicu kejang ini macam-macam, bisa karena proses di kepala atau otak, atau di luar kepala. Kalau di dalam otak atau kepala, kemungkinan ada infeksi di otak atau tumor di otak, dan perdarahan di otak. Tapi yang terjadi di luar otak, bisa karena kekurangan natrium atau garam dan gula, sehingga terjadi gangguan-gangguan elektrolit. Misalnya karena sering diare, atau kejang karena adanya elektrolit atau garam yang keluar dari tubuh.
2. Sesak napas
Jangan sampai bayi Anda sesak napas, apalagi sampai membiru. Itu tandanya si bayi sudah kekurangan oksigen. Oksigen itu terutama dialirkan ke dalam otak dan organ lainnya. Jika bayi Anda sesak napas, secepatnya harus diatasi, apakah sesak itu disebabkan karena sumbatan saluran napas, atau karena infeksi di paru-paru, harus segera diatasi dan dibawa ke dokter.
3. Syok
Tanda-tandanya, denyut nadi tak teraba, muncul keringat dingin, kesadaran berkurang, serta jumlah cairan tubuh berkurang. Penyebab syok pada bayi bermacam-macam juga. Dapat dikarenakan kehilangan cairan tubuh, misalnya demam berdarah, yang mengakibatkan cairan dari dalam darah melalui pembuluh darah keluar menuju jaringan. Bisa juga karena diare dan kekurangan cairan, terjadinya perdarahan, kelainan jantung, atau karena syok lain yang disebabkan karena kesakitan yang biasa dokter sebut dengan neorogenik shock. Perawatannya, harus harus segera diinfus.
4. Tak sadarkan diri
Ini dapat terjadi karena adanya gangguan kesadaran. Setiap ada gangguan kesadaran pada bayi, orang tua harus hati-hati dan harus segera membawanya ke dokter. Ciri-ciri bayi yang tak sadarkan diri, secara fisik dapat terlihat seperti mula-mula setengah sadar, mengacau, panas tinggi, atau mungkin saja langusng tidak sadar. Di cubit pun, tak akan merasakan sakit dan tak tahu apa yang terjadi disekelilingnya. 

Kenali Gangguan Sensoris pada Anak

- Apakah anak Anda bereaksi berlebihan terhadap suara keras, menghindari tekstur tertentu, tampak gerakan tidak terkoordinasi, atau hanya tampak kurangnya pengendalian diri? Jika demikian, ia mungkin mengalami beberapa jenis gangguan sensorik.
Semua anak-anak biasanya menjalani berbagai masalah sensorik sambil menjelajahi dan berinteraksi dalam lingkungan mereka. Ternyata gangguan sensoris pada anak sering disertai gangguan perilaku lainnya seperti anak sangat aktif tidak bisa diam, emosi tinggi, gangguan konsentrasi, gangguan oral motor (gangguan mengunyah menelan atau gangguan bicara), gangguan tidur malam dan gangguan belajar. Gangguan sensoris sering terjadi pada penderita Sensory Prossecing Disorders, Autism, ADHD dan penderita alergi atau hipersensitif saluran cerna. Namun sebagian anak normal juga mengalami gangguan sensoris tersebut.

Sebagian anak dengan gangguan sensoris sangat sensitif terhadap rangsang suara tertentu, perabaan dan sensitif terhadap suara frekuensi tinggi, cahaya atau mudah silau, perabaan telapak kaki dan tangan sensitif jalan jinjit, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan binatang berbulu. Pada beberapa anak, merasa tidak nyaman bila memakai kaos yang ada label atau merek kaos di punggung atas sehingga sering minta dilepas atau sering dipegang.
Rasa perabaan sensoris kaki sangat sensitif bila lantai kotor sedikit atau berpasir sering geli dan harus pakai sandal, biasanya bila berjalan tidak menapak baik sehingga sering jalan tidak sempurna jalan jinjit, miring, kaki O atau X, sandal atau sepatu seringkali ausnya tidak rata atau tidak seimbang kiri kanan.

Gangguan sensorik memiliki banyak penyebab dan digabungkan dalam banyak diagnosa medis lainnya. Pada penderita Autisme, ADHD, dan Delay Pervasive Developmental gangguan sensorik memainkan peran penting. Identifikasi dini sering menyebabkan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat untuk individu yang bersangkutan.

Gangguan sensorik dapat mempengaruhi satu, beberapa, atau semua indera fisik. Ada 7 kategori yang meliputi fungsi sensorik kita. Kelompok-kelompok ini adalah: taktil (sentuhan), auditori (pendengaran), visual (penglihatan), rasa, pencium (bau), vestibular (gerakan dan gravitasi), dan proprioseptif (kesadaran tubuh, otot, dan sendi). Kebanyakan orang mengalami gangguan sensorik baik hipersensitif (lebih dirangsang) atau sensitif hipo (di bawah dirangsang). Bila salah satu rasa mengalami gangguan maka dapat mempengaruhi beberapa fungsi tubuh lainnya. Jika satu atau lebih indera terganggu, pesan sensorik yang dikirim ke otak tidak benar. Pesan-pesan ini menjadi kacau, menyebabkan individu menderita untuk memahami lingkungan mereka dengan cara yang berbeda. Realitas disalahtafsirkan, menyebabkan penilaian yang salah.

Tanda dan gerjala 3 gangguan sensoris


- Perabaan : Menghindari sentuhan, nyeri toleransi yang tinggi, koordinasi yang buruk, membersihkan tangan atau bagian tubuh lainnya sering, tidak suka dandan (menyikat gigi atau rambut, dll), menempatkan tangan atau jari di mulut sering, terus bergerak , berjalan berat atau pada jari kaki, menghindari tekstur tertentu dalam makanan, pakaian, atau bahan lainnya, dan pakaian tidak suka memakai, tag pakaian, kaus kaki, atau sepatu. Jalan jinjit atau sering membersihkan kaki dari kotoran atau saat berjalan di tanah sering harus memakai sandal.

- Auditori : Sangat sensitif terhadap suara dengan frekuensi tertentu seperti suara gergaji listrik, suara blender, suara bayi menangis atau suara melengking lainnya. Penderita juga sangat sensitif dan sanagat bereaksi terhadap suara keras, mudah marah atau tampaknya mengabaikan orang lain, sering menutup telinga, berulang bersenandung atau menyanyi untuk diri, menghindar kelompok besar orang, mendengarkan TV, radio, dll, pada volume tidak wajar tinggi, terganggu oleh keributan lingkungan, hambatan berbicara, merobek atau kertas berkerut atau barang-barang seperti lainnya, dan ingin mengabaikan suara orang lain.

- Visual :
Mudah silau atau tidak nyaman dengan sinar matahari atau lampu yang terang. Ditandai dengan gangguan pandangan, Saar memandang mainan, buku, dll haris didekatkan ke wajah, posisi objek dalam baris, membuka dan menutup berulang pintu atau laci, terus balik lampu dan mematikan, terpesona oleh benda mengkilat atau reflektif (cermin, kaca, dll), gosok sering atau menyipitkan mata dari mata, gelisah dengan gerakan terdekat di lingkungan, keengganan atau berolahraga hati-hati kadung saat berpindah antara berbagai jenis penutup lantai, dan tampaknya terlalu sensitif terhadap cahaya.

Gangguan Sensoris biasanya disertai gangguan lain seperti:

- Susunan safar pusat : sakit kepala, migren, TICS (gerakan mata sering berkedip), kejang nonspesifik (kejang tanpa demam dan EEG normal).
- Gerakan motorik berlebihan pada bayi
: Mata sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Pada Anak lebih besar : Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”). ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
- Gangguan tidur : Pada bayi : malam sering terbangun sering dikira haus atau sering dikira ASI ibu kurang sehingga minum ASI berlebihan, akibatnya BB anak naik berlebihan karena terlalu banyak minum. Pada anak dan dewasa : sulit untuk memulai tidur malam atau tidur larut malam, tidur bolak-balik dari ujung ke ujung tempat tidur, berbicara ,tertawa, berteriak atau berjalan saat tidur, mendadak terbangun duduk saat tidur kemudian tidur lagi, mimpi buruk, “beradu gigi” atau gigi gemeretak atau bruxism.
- Agresif meningkat pada bayi : sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (seperti “gemes”). Pada anak lebih besar : mudah memukul, menggigit, mencubit. Pada dewasa : mudah memukul atau menampar orang lain, berlaku kasar terhadap anak , istri atau suami.
- Gangguan konsentrasi :
cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antre, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS. Pada dewasa : mudah lupa (short memory lost), sering lupa meletakkan kunci, lupa nama teman tetapi memori lama kuat.
- Emosi tinggi :
mudah marah, sering berteriak, mengamuk, tantrum, keras kepala, negatifisme dan mudah menyangkal (deny) sangat tinggi.
- Depresi dan mudah cemas : mudah marah, sedih berlebihan, mudah tersinggung, sering kesepian, mudah menangis meski masalahnya ringan
- Gangguan keseimbangan koordinasi dan motorik : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak,
- Gangguan oral motor : terlambat bicara, bicara terburu-buru, cadel, gagap. Gangguan mengunyah menelan: , seringkali pilih bila makan hanya suka makan krispi, kerupuk atau yang renyah (sayur hanya wortel, brokoli, kentang, bayam). Tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur tertentu, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi. pada dewasa seringkali makan sangat cepat tanpa dikunyah.
- Impulsif : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain, bila bicara sangat cepat banyak dan sulit berhenti. Menangis dan tertawa berubah bergantian dengan cepat.

Cermati tanda dan gejala gangguan saluran cerna pada penderita alergi yang menyertai penderita gangguan sensoris
Pada penderita gangguan sensoris sering disertai gangguan hipersensitif saluran cerna atau alergi saluran cerna. Gangguan saluran cerna sebagai sindrom atau kesatuan gangguan alergi asma, rinitis, dermatitis dan gangguan alergi lainnya.

Penderita alergi biasanya tidak hanya mengalami satu gejala saja, misalnya asma, hidung, dermatitis (alergi kulit) atau hanya saluran cerna. Penderita alergi biasanya terganggu beberapa organ tubuhnya khususnya saluran cernanya secara bersamaan meski dalam bentuk ringan. Tetapi sayang dalam praktek sehari-hari untuk menilai gangguan alergi sebagian dokter seringkali hanya memandang satu keluhan saja dalam penanganan sebuah penyakit. Misalnya dokter kulit hanya melihat gangguan dermatitis padahal saluran cernanya bermasalah juga karena alergi.
Sedangkan dokter ahli pernapasan atau paru hanya memandang asma sebagai masalah utama, padahal penderita asma juga sering mengalami gangguan saluran cerna seperti gastrooesephageal refluks, mual atau nyeri perut. Demikian juga ahli THT hanya melihat gangguan sinusitis yang dipicu alergi, tetapi tidak melihat keluhan sensitif saluran cerna. Sebaliknya, dokter ahli saluran cerna hanya melihat keluhan saluran cerna tersendiri padahal keluhan asma, rinitis dan dermatitis yang menyertai adalah termasuk kesatuan dalam gangguan penyakit itu.

Alergi makanan harus dicurigai sebagai penyebab gangguan manifestasi alergi selama ini bila terdapat gangguan saluran cerna. Tetapi sayangnya gangguan saluran cerna tersebut sangat ringan dan dianggap biasa sehingga lepas dari pengamatan penderita ataupun bahkan seorang dokter ahli. Bila hal ini terjadi maka seringkali terjadi kesalahan dalam mengidentifikasi penyebab alergi. Sehingga sering overdiagnosis, bahwa penyebab alergi adalah debu dan udara dingin, padahal alergi makanan sangat mungkin berperanan penting.

Gangguan saluran cerna yang terjadi adalah :
-  Pada Bayi : bayi mengalami gastrooesepageal refluks, sering muntah/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis atau hidrokel. Air liur berlebihan. Lidah atau mulut sering timbul putih, bibir kering dan kadang kehitaman sebagian

-  Pada Anak dan Dewasa : Pada usia anak keluhan muntah semakin berkurang tetapi masih sering mengalami mudah muntah bila menangis, berlari atau makan banyak atau bila naik kendaran bermotor, pesawat atau kapal. Sering mengalami mual terutama pagi hari bila hendak gosok gigi atau sedang disuap makanan.Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering glegekan, sering kembung, sering buang angin dan buang angin bau tajam. Sering nyeri perut. Pada penderita dewasa sering megalami gejala penyakit “maag”, dyspepsia atau Iritable Bowel Syndrome.
Penanganan
- Anak-anak yang berjalan jinjit kemungkinan besar mengalami masalah sensorik. Sehingga bisa dilakukan terapi sensoris meski terjadi pada anak normal.
- Intervensi dini merupakan kunci, baik untuk yang memang dicurigai autisme atau memang berjalan jinjit karena gangguan sensorik.
- Kebanyakan kondisi ini akan membaik sendiri selama masa kecil.
- Pengobatan penderita gangguan sensoris dengan disertai jalan jinjit jarang diperlukan untuk anak-anak yang berusia 6 tahun ke bawah. Penderita jalan jinjit disertai pemendekan tendon Achilles atau otot betis. Mungkin diperlukan operasi.
- Bila gangguaj sensoris disertai gangguan alergi saluran cerna sebaiknya dikonsultasikan pada dokter alergi atau ahli l;ainnya. Ternyata saat dilakukan pengendalian alergi gangguan sensoris yang tiimbil bisa berkurang.

Terapi Sensoris- Tidur telentang dan diam (tidak bergerak). Terapi ini bertujuan agar si kecil mampu merasakan (aware) keberadaan dirinya.
- Usapan meyeluruh dari kepala, bahu, tangan, pinggang, paha, kaki, telapak kaki bertujuan untuk menenangkan,relaksasi otot-otot yang tegang.
-  Usapan di bagian kepala, termasuk amat, hidung, mulut, telinga. Bertujuan untuk relaksasi mengurangi sensitivitas pancaindra, dan meningkatkan awareness terhadap organ indra.
- Usapan berbentuk angka 8 di pinggang ke paha, juga dari dada ke lengan. Berfungsi sebagai brain gym pasif, salah satu bentuk stimulasi untuk melatih koordinasi gerak tubuh.
- Usapan di Tendon Guard (lipatan bahu, bawah rusuk, atas tulang panggul). Bertujuan untuk relaksasi tendon sekaligus mengencangkan otot-otot yang lembek.
-  Usapan di kaki. Bertujuan untuk melatih reflex babinski. Bagi yang refleksnya terlalu besar, dikurangi. Biasanya, ini dilakukan pada anak yang berjalan jinjit.
- Tidur miring, diusap sepanjang sisi abdomen. Bertujuan untuk mengenalkan reflex gallant (keseimbangan kanan dan kiri). Saat masa sekolah, ini bisa mengurangi resiko kesulitan belajar.
- Usapan di bahu (mobilisasi bahu) bertujuan agar pada anak-anak kebutuhan khusus, biasanya, bahunya selalu naik karena tegang (sikap defensif). Usapan berguna untuk merilekskan dan mengurangi sensitivitas bahu.

Mengatasi Kejang Pada Bayi Dan Balita

Kejang, baik yang disertai demam atau tidak, bisa berdampak fatal. Itulah sebabnya, setelah memberi pertolongan pertama, bawa segera si kecil ke rumah sakit.
Kejang sendiri terjadi akibat adanya kontraksi otot yang berlebihan dalam waktu tertentu tanpa bisa dikendalikan. Salah satu penyebab terjadinya kejang demam yaitu tingginya suhu badan anak. Timbulnya kejang yang disertai demam ini diistilahkan sebagai kejang demam (convalsio febrillis) atau stuip/step.
Masalahnya, toleransi masing-masing anak terhadap demam sangatlah bervariasi. Pada anak yang toleransinya rendah, maka demam pada suhu tubuh 38 C pun sudah bisa membuatnya kejang. Sementara pada anak-anak yang toleransinya normal, kejang baru dialami jika suhu badan sudah mencapai 39 C atau lebih.
SEGERA BAWA KE DOKTER
Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, disarankan agar orang tua sesegera mungkin memberi pertolongan pertama begitu tahu si kecil mengalami kejang demam.
Setelah itu,jangan tunggu waktu lagi bawa segera si kecil ke dokter atau klinik terdekat. Jangan terpaku hanya pada lamanya kejang, entah cuma beberapa detik atau sekian menit. Dengan begitu, si kecil akan mendapat penanganan lebih lanjut yang tepat dari para ahli. Biasanya dokter juga akan memberikan obat penurun panas, sekaligus membekali obat untuk mengatasi kejang dan antikejang. “Sebagai pertolongan pertama, tak usah membawanya langsung ke rumah sakit lengkap yang letaknya relatif lebih jauh karena bisa-bisa si kecil mendapat risiko yang lebih berbahaya akibat lambat mendapat pertolongan pertama.”
Selain itu, jika kejang demam tidak segera mendapat penanganan semestinya, si kecil pun terancam bakal terkena retardasi mental. Pasalnya, kejang demam bisa menyebabkan rusaknya sel-sel otak anak. Jadi, kalau kejang itu berlangsung dalam jangka waktu yang lama, maka kemungkinan sel-sel yang rusak pun akan semakin banyak. Bukan tidak mungkin tingkat kecerdasan anak akan menurun drastis dan tidak bisa lagi berkembang secara optimal.
Bahkan beberapa kasus kejang demam bisa menyebabkan epilepsi pada anak. Yang tak kalah penting, begitu anaknya terkena kejang demam, orang tua pun mesti ekstra hati-hati. Soalnya, dalam setahun pertama setelah kejadian, kejang serupa atau malah yang lebih hebat berpeluang terulang kembali.
Untuk mengantisipasinya, sediakanlah obat penurun panas dan obat antikejang yang telah diresep-kan dokter anak. Meski begitu, orang tua jangan kelewat khawatir. Karena dengan penanganan yang tepat dan segera, kejang demam yang berlangsung beberapa saat umumnya tak menimbulkan gangguan fungsi otak.

CIRI-CIRI KEJANG

Tentu saja dalam hal ini orang tua harus bisa membaca ciri-ciri seorang anak yang terkena kejang demam. Di antaranya:

* kedua kaki dan tangan kaku disertai gerakan-gerakan kejut yang kuat dan kejang-kejang selama 5 menit . bola mata berbalik ke atas
* gigi terkatup
* muntah
* tak jarang si anak berhenti napas sejenak.
* pada beberapa kasus tidak bisa mengontrol pengeluaran buang air besar/kecil.
* pada kasus berat, si kecil kerap tak sadarkan diri. Adapun intensitas waktu kejang juga sangat bervariasi, dari beberapa detik sampai puluhan menit.
TIPS ATASI KEJANG DEMAM
Berikut beberapa penjelasan  tentang kejang dan demam pada anak: . Suhu tubuh normal anak berkisar antara 36-37 C. Si kecil dinyatakan demam bila temperatur tubuhnya yang diukur melalui mulut/telinga menunjukkan angka 37,8 C; melalui rektum 38 C, dan 37,2 C melalui ketiak.Sebelum semakin tinggi, segera beri obat penurun panas. .
Orang tua jangan begitu gampang mengatakan seorang anak demam atau tidak hanya dengan menempelkan punggung tangannya di dahi anak. Cara ini jelas tidak akurat karena amat dipengaruhi oleh kepekaan dan suhu badan orang tua sendiri.
Termometer air raksa diyakini merupakan cara yang paling tepat untuk mengukur suhu tubuh. Pengukuran suhu tubuh akan lebih akurat bila termometer tersebut ditempatkan di rongga mulut atau rektum/anus dibanding ketiak.
Saat menghadapi si kecil yang sedang kejang demam, sedapat mungkin cobalah bersikap tenang. Sikap panik hanya akan membuat kita tak tahu harus berbuat apa yang mungkin saja akan membuat penderitaan anak tambah parah.
Jangan gunakan alkohol atau air dingin untuk menurunkan suhu tubuh anak yang sedang demam. Penggunaan alkohol amat berpeluang menyebabkan iritasi pada mata dan intoksikasi/keracunan.
Lebih aman gunakan kompres air biasa yang diletakkan di dahi, ketiak, dan lipatan paha. Kompres ini bertujuan menurunkan suhu di permukaan tubuh. Turunnya suhu ini diharapkan terjadi karena panas tubuh digunakan untuk menguapkan air pada kain kompres. Penurunan suhu yang drastis justru tidak disarankan.
Jangan coba-coba memberikan aspirin atau jenis obat lainnya yang mengandung salisilat karena diduga dapat memicu sindroma Reye, sejenis penyakit yang tergolong langka dan mempengaruhi kerja lever, darah, dan otak.
Setelah anak benar-benar sadar, bujuklah ia untuk banyak minum dan makan makanan berkuah atau buah-buahan yang banyak mengandung air. Bisa berupa jus, susu, teh, dan minuman lainnya. Dengan demikian, cairan tubuh yang menguap akibat suhu tinggi bisa cepat tergantikan.
Jangan selimuti si kecil dengan selimut tebal. Selimut dan pakaian tebal dan tertutup justru akan meningkatkan suhu tubuh dan menghalangi penguapan. Pakaian ketat atau yang mengikat terlalu kencang sebaiknya ditanggalkan saja.

YANG BISA DILAKUKAN ORANG TUA

*Segera beri obat penurun panas begitu suhu tubuh anak melewati angka 37,5 C.

* Kompres dengan lap hangat (yang suhunya kurang lebih sama dengan suhu badan si kecil). Jangan kompres dengan air dingin, karena dapat menyebabkan “korsleting”/benturan kuat di otak antara suhu panas tubuh si kecil dengan kompres dingin tadi.
* Agar si kecil tidak cedera, pindahkan benda-benda keras atau tajam yang berada dekat anak. . Tak perlu menahan mulut si kecil agar tetap terbuka dengan mengganjal/menggigitkan sesuatu di antara giginya. . Miringkan posisi tubuh si kecil agar penderita tidak menelan cairan muntahnya sendiri yang bisa mengganggu pernapasannya.
* Jangan memberi minuman/makanan segera setelah berhenti kejang karena hanya akan berpeluang membuat anak tersedak.
KEJANG TANPA DEMAM

Penyebabnya bermacam-macam. Yang penting, jangan sampai berulang dan berlangsung lama karena dapat merusak sel-sel otak. Menurut dr. Merry C. Siboro, Sp.A, dari RS Metro Medical Centre, Jakarta, kejang adalah kontraksi otot yang berlebihan di luar kehendak.
“Kejang-kejang kemungkinan bisa terjadi bila suhu badan bayi atau anak terlalu tinggi atau bisa juga tanpa disertai demam.”
Kejang yang disertai demam disebut kejang demam (convalsio febrilis). Biasanya disebabkan adanya suatu penyakit dalam tubuh si kecil. Misal, demam tinggi akibat infeksi saluran pernapasan, radang telinga, infeksi saluran cerna, dan infeksi saluran kemih. Sedangkan kejang tanpa demam adalah kejang yang tak disertai demam. Juga banyak terjadi pada anak-anak.

BISA DIALAMI SEMUA ANAK

Kondisi kejang umum tampak dari badan yang menjadi kaku dan bola mata berbalik ke atas. Kondisi ini biasa disebut step atau kejang toniklonik (kejet-kejet). Kejang tanpa demam bisa dialami semua anak balita. Bahkan juga bayi baru lahir.
Umumnya karena ada kelainan bawaan yang mengganggu fungsi otak sehingga dapat menyebabkan timbulnya bangkitan kejang. Bisa juga akibat trauma lahir, adanya infeksi-infeksi pada saat-saat terakhir lahir, proses kelahiran yang susah sehingga sebagian oksigen tak masuk ke otak, atau menderita kepala besar atau kecil.

Bayi yang lahir dengan berat di atas 4.000 gram bisa juga berisiko mengalami kejang tanpa demam pada saat melalui masa neonatusnya (28 hari sesudah dilahirkan).
“Ini biasanya disebabkan adanya riwayat ibu menderita diabetes, sehingga anaknya mengalami hipoglemi (ganggguan gula dalam darah). Dengan demikian, enggak demam pun, dia bisa kejang.”
Selanjutnya, si bayi dengan gangguan hipoglemik akibat kencing manis ini akan rentan terhadap kejang. “Contohnya, telat diberi minum saja, dia langsung kejang.” Uniknya, bayi prematur justru jarang sekali menderita kejang. “Penderitanya lebih banyak bayi yang cukup bulan. Diduga karena sistem sarafnya sudah sempurna sehingga lebih rentan dibandingkan bayi prematur yang memang belum sempurna.”

JANGAN SAMPAI TERULANG

Penting diperhatikan, bila anak pernah kejang, ada kemungkinan dia bisa kejang lagi. Padahal, kejang tak boleh dibiarkan berulang selain juga tak boleh berlangsung lama atau lebih dari 5 menit. Bila terjadi dapat membahayakan anak.
Masalahnya, setiap kali kejang anak mengalami asfiksi atau kekurangan oksigen dalam darah. “Setiap menit, kejang bisa mengakibatkan kerusakan sel-sel pada otak, karena terhambatnya aliran oksigen ke otak.
Bayangkan apa yang terjadi bila anak bolak-balik kejang, berapa ribu sel yang bakal rusak? Tak adanya aliran oksigen ke otak ini bisa menyebakan sebagian sel-sel otak mengalami kerusakan.
”Kerusakan di otak ini dapat menyebabkan epilepsi, kelumpuhan, bahkan retardasi mental. Oleh karenanya, pada anak yang pernah kejang atau berbakat kejang, hendaknya orang tua terus memantau agar jangan terjadi kejang berulang.

DIMONITOR TIGA TAHUN

Risiko berulangnya kejang pada anak-anak, umumnya tergantung pada jenis kejang serta ada atau tidaknya kelainan neurologis berdasarkan hasil EEG (elektroensefalografi). Di antara bayi yang mengalami kejang neonatal (tanpa demam), akan terjadi bangkitan tanpa demam dalam 7 tahun pertama pada 25% kasus. Tujuh puluh lima persen di antara bayi yang mengalami bangkitan kejang tersebut akan menjadi epilepsi.
Harus diusahakan, dalam tiga tahun sesudah kejang pertama, jangan ada kejang berikut.
Dokter akan mengawasi selama tiga tahun sesudahnya, setelah kejang pertama datang. Bila dalam tiga tahun itu tak ada kejang lagi, meski cuma dalam beberapa detik, maka untuk selanjutnya anak tersebut mempunyai prognosis baik.Artinya, tak terjadi kelainan neurologis dan mental.
Tapi, bagaimana jika setelah diobati, ternyata di tahun kedua terjadi kejang lagi? “Hitungannya harus dimulai lagi dari tahun pertama.”Pokoknya, jangka waktu yang dianggap aman untuk monitoring adalah selama tiga tahun setelah kejang.
Jadi, selama tiga tahun setelah kejang pertama itu, si anak harus bebas kejang. Anak-anak yang bebas kejang selama tiga tahun itu dan sesudahnya, umumnya akan baik dan sembuh. Kecuali pada anak-anak yang memang sejak lahir sudah memiliki kelainan bawaan, semisal kepala kecil (mikrosefali) atau kepala besar (makrosefali), serta jika ada tumor di otak.

RAGAM PENYEBAB

“Kejang tanpa demam bisa berasal dari kelainan di otak, bukan berasal dari otak, atau faktor keturunan,” penjabarannya satu per satu di bawah ini.
* Kelainan neurologis Setiap penyakit atau kelainan yang mengganggu fungsi otak bisa menimbulkan bangkitan kejang.
Contoh, akibat trauma lahir, trauma kepala, tumor otak, radang otak, perdarahan di otak, atau kekurangan oksigen dalam jaringan otak (hipoksia).
* Bukan neurologis Bisa disebabkan gangguan elektrolit darah akibat muntah dan diare, gula darah rendah akibat sakit yang lama, kurang asupan makanan, kejang lama yang disebabkan epilepsi, gangguan metabolisme, gangguan peredaran darah, keracunan obat/zat kimia, alergi dan cacat bawaan.
* Faktor keturunan Kejang akibat penyakit lain seperti epilepsi biasanya berasal dari keluarga yang memiliki riwayat kejang demam sama. Orang tua yang pernah mengalami kejang sewaktu kecil sebaiknya waspada karena anaknya berisiko tinggi mengalami kejang yang sama.

WASPADAI DI BAWAH 6 BULAN

Orang tua harus waspada bila anak sering kejang tanpa demam, terutama di bawah usia 6 bulan, Karena kemungkinannya untuk menderita epilepsi besar.
Masalahnya, kejang pada anak di bawah 6 bulan, terutama pada masa neonatal itu bersifat khas. “Bukan hanya seperti toniklonik yang selama ini kita kenal, tapi juga dalam bentuk gerakan-gerakan lain. Misal, matanya juling ke atas lalu bergerak-gerak, bibirnya kedutan atau tangannya seperti tremor.
Dokter biasanya waspada, tapi kalau kejangnya terjadi di rumah, biasanya jarang ibu yang ngeh.” Itulah sebabnya, orang tua harus memperhatikan betul kondisi bayinya.

MENOLONG ANAK KEJANG

1. Jangan panik, segera longgarkan pakaiannya dan lepas atau buang semua yang menghambat saluran pernapasannya. Jadi kalau sedang makan tiba-tiba anak kejang, atau ada sesuatu di mulutnya saat kejang, segera keluarkan.

2. Miringkan tubuh anak karena umumnya anak yang sedang kejang mengeluarkan cairan-cairan dari mulutnya. “Ini sebetulnya air liur yang banyak jumlahnya karena saraf yang mengatur kelenjar air liur tak terkontrol lagi. Kalau sedang kejang, kan, saraf pusatnya terganggu. Bukan cuma air liur, air mata pun bisa keluar.” Guna memiringkan tubuh adalah supaya cairan-cairan ini langsung keluar, tidak menetap di mulut yang malah berisiko menyumbat saluran napas dan memperparah keadaan.

3. Jangan mudah percaya bahwa meminumkan kopi pada anak yang sedang kejang bisa langsung menghentikan kejang tersebut. “Secara medis, kopi tak berguna untuk mengatasi kejang. Kopi justru dapat menyebabkan tersumbatnya pernapasan bila diberikan saat anak mengalami kejang, yang malah bisa menyebabkan kematian.”

4. Segera bawa anak ke rumah sakit terdekat, jangan sampai otak kelamaan tak mendapat oksigen. “Usahakan lama kejang tak lebih dari tiga menit. Siapkan obat antikejang yang disarankan dokter bila anak memang pernah kejang atau punya riwayat kejang.”

PENATALAKSANAAN
Penatalaksaan kejang meliputi :
1.  Penanganan saat kejang
* Menghentikan kejang : Diazepam dosis awal 0,3 – 0,5 mg/kgBB/dosis IV (Suntikan Intra Vena) (perlahan-lahan) atau 0,4-0,6mg/KgBB/dosis REKTAL SUPPOSITORIA. Bila kejang belum dapat teratasi dapat diulang dengan dosis yang sama 20 menit kemudian.
* Turunkan demam :
Anti Piretika : Paracetamol 10 mg/KgBB/dosis PO (Per Oral / lewat mulut) diberikan 3-4 kali sehari.
Kompres ; suhu >39º C dengan air hangat, suhu > 38º C dengan air biasa.
* Pengobatan penyebab : antibiotika diberikan sesuai indikasi dengan penyakit dasarnya.
* Penanganan sportif lainnya meliputi : bebaskan jalan nafas, pemberian oksigen, memberikan keseimbangan air dan elektrolit, pertimbangkan keseimbangan tekanan darah.
2. Pencegahan Kejang
* Pencegahan berkala (intermiten) untuk kejang demam sederhana dengan Diazepam 0,3 mg/KgBB/dosis PO (Per Oral / lewat mulut) dan anti piretika  pada saat anak menderita  penyakit yang disertai demam.
* Pencegahan kontinu untuk kejang demam komplikata dengan Asam vaproat 15-40 mg/KgBB/dosis PO (per oral / lewat mulut) dibagi dalam 2-3 dosis.
ANAK EPILEPSI HARUS KONTROL SETIAP 3 BULAN

Mereka yang berisiko menderita epilepsi adalah anak-anak yang lahir dari keluarga yang mempunyai riwayat epilepsi. Selain juga anak-anak dengan kelainan neurologis sebelum kejang pertama datang, baik dengan atau tanpa demam.
Anak yang sering kejang memang berpotensi menderita epilepsi. Tapi jangan khawatir, anak yang menderita epilepsi, kecuali yang lahir dengan kelainan atau gangguan pertumbuhan, bisa tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya. Prestasi belajar mereka tidak kalah dengan anak yang normal.
Jadi, kita tak perlu mengucilkan anak epilepsi karena dia bisa berkembang normal seperti anak-anak lainnya. “Yang penting, ia tertangani dengan baik. Biasanya kalau anak itu sering kejang, dokter akan memberi obat yang bisa menjaganya supaya jangan sampai kejang lagi.
Pada anak epilepsi, fokus perawatannya adalah jangan sampai terjadi kejang lagi. Untuk itu, perlu kontrol, paling tidak setiap 3 bulan agar monitoring dari dokter berjalan terus.”

Perkembangan Bayi Usia 0 – 12 Bulan

Banyak orangtua yang bertanya-tanya: “apakah perkembangan bayi saya normal?”
Setiap bayi berkembang dengan kecepatannya sendiri. Namun, bukan berarti tidak ada pola perkembangan yang berlaku umum. Perbedaan sedikit dalam kecepatan perkembangan adalah hal biasa. Bila perbedaannya cukup besar, mungkin ada yang salah dengan bayi Anda. Berikut adalah pola umum perkembangan bayi dalam 12 bulan pertama yang dapat menjadi tolok ukur bagi bayi Anda:

Usia 0-1 bulan

A very happy toddlerphoto © 2008 Jessica Merz | more info (via: Wylio)Semua aktivitas bayi masih berjalan secara naluriah atau refleks. Meskipun bayi dapat melihat, mendengar, membau, meraba, dan merasa, dia belum mengerti maknanya. Keterampilan komunikasi pertama yang dipelajarinya adalah menangis. Itulah satu-satunya bentuk komunikasinya dengan dunia luar.

Usia 2 bulan

Walaupun bayi masih beraktivitas secara refleks, kesadaran dirinya mulai terbentuk. Bayi kini mulai melakukan beberapa tindakan sukarela. Pada usia ini, bayi secara otomatis mengepalkan jari-jari tangannya dan terkejut oleh suara keras tiba-tiba. Dia bisa memiringkan kepala dalam beberapa detik dan mengucapkan suara “oooh” dan “aaah”. Dia dapat tersenyum dan mengikuti wajah pengasuhnya dengan matanya sampai sudut maksimum 90°. Meskipun sudah bisa menegakkan kepala, dia belum bisa menjaganya tetap stabil. Bila digendong, bayi Anda harus ditopang kepalanya.

Usia 3 bulan

Bayi Anda secara bertahap mengambil alih kendali atas tubuhnya dan hanya sesekali saja mengepalkan tinju. Sekarang dia dapat menggenggam benda secara aktif dengan tangannya. Dia dapat memiringkan kepala saat berbaring dan menahannya untuk sementara. Kepalanya telah dapat dia jaga dengan stabil dan matanya dapat mengikuti gerakan benda ke segala arah. Dia mengenal suara Anda, tersenyum dan merespon Anda dengan suara.

Usia 4 bulan

Bayi Anda dapat tersenyum dan tertawa spontan. Dia bisa berbalik sendiri dari posisi telentang ke tengkurap. Dia mulai bisa menahan beban di kaki sehingga sesekali dapat melakukan “push-up”. Dia bisa memindahkan objek dari satu tangan ke tangan yang lain dan mulai mengoceh.

Usia 5 bulan

Bayi Anda dapat mengenali warna-warna dan bermain dengan tangan dan kakinya. Dia mungkin sudah mengetahui namanya sehingga bereaksi bila dipanggil. Beberapa bayi sudah bisa duduk untuk beberapa saat.

Usia 6 bulan

Bayi Anda akan menengok ke arah suara dan mulai menirukan suara-suara. Kebanyakan bayi sudah dapat berguling ke dua sisi. Beberapa bayi sudah duduk stabil di usia ini.

Usia 7 bulan

Kebanyakan bayi sudah bisa duduk stabil. Sebagian bayi sudah dapat merangkak. Dia akan menjulurkan lengannya ke Anda jika ingin diangkat. Dia suka memasukkan segala sesuatu di mulutnya.

Usia 8 bulan

Bayi Anda berbicara lebih terstruktur, seperti “ba-ba” dan “da-da”, tapi belum ada maknanya. Beberapa bayi sudah dapat berdiri dengan berpegangan pada sesuatu.

Usia 9 bulan

Sebagian besar bayi sudah dapat bangkit sendiri dari posisi duduk untuk berdiri dengan berpegangan. Dia sudah bisa makan dengan tangannya dan meminum dari cangkir dengan bantuan Anda.

Usia 10 bulan

Bayi Anda dapat melambaikan tangan untuk “dadah” dan memungut benda dengan jepitan jari-jarinya. Keterampilan merangkaknya sudah sempurna (dengan perut tidak menyentuh lantai). Bayi Anda mungkin sudah memanggil ayah-bundanya, “mama” atau “papa” dengan benar.

Usia 11 bulan

Bayi Anda sudah bisa menyampaikan keinginan dengan isyarat. Dia juga memahami beberapa perintah sederhana seperti meminum dot atau menyerahkan sendok. Beberapa bayi sudah bisa berjalan dengan bimbingan dan mengucapkan beberapa kata yang bermakna.

Usia 12 bulan

Sebagian besar bayi sudah dapat berbicara sederhana atau berjalan. Jika dia mengembangkan keterampilan berbicara terlebih dahulu, maka kemampuan berjalannya tertinggal. Sebaliknya, bila dia bisa berjalan terlebih dahulu maka keterampilan berbicaranya tertinggal. Bayi perempuan biasanya lebih dulu mengembangkan keterampilan berbicara, namun tidak semuanya demikian.

Perkembangan Anak Usia 1 Bulan

Apa yang Terjadi Hingga Usia Bayi 1 Bulan?

Kita perlu mengamati, bagaimana si buah hati tumbuh. Dari sejak bayi pertumbuhan bayi baru lahir sampai dengan usia bayi berumur 1 bulan. Amati ya Bu, bagaimana si bayi tumbuh, baik itu pertumbuhan fisik bayi sudah mulai kelihatan. Bayi sudah tidak terlihat mengkerut lagi. Walaupun kaki bayi masih kelihatan bengkok, kini sang bayi sudah mulai dapat mengangkat kepala sedikit ketika buah hati tengkurap.  Tangan bayi masih suka mengepal dan akan menggenggam apapun yang disentuhnya secara otomatis. Ini adalah refleks alami yang dimiliki bayi sejak bayi dilahirkan.

Pada umur 1 bulan, bayi sudah mulai menggumam, mengeluarkan suara seperti mendengkur, dan juga berdengung untuk mengungkap perasaannya. Sebagai orang tua, ibu disarankan untuk menanggapi semua yang diungkapkan oleh bayi. Beberapa bayi, bahkan dapat bersuara seperti menjerit dan juga tertawa.  Tatap matanya dan bayi akan lebih gembira jika kita berbicara kepadanya. Jangan merasa aneh untuk berbicara dengan bayi, karena ini adalah langkah awal untuk belajar bicara dan memahami kemampuan bahasa bayi.

Seiring dengan bertambahnya usia bayi gerak refleks yang dimiliki bayi saat dia baru lahir akan semakin bertambah.  Kini ia bahkan sudah mengerti bahwa ia melakukan sesuatu untuk tujuan tertentu.  Misalnya ia akan menendang-nendang ketika dia lapar. Bukankah ini sesuatu yang hebat?

Bermain dan Mengenali Anggota Tubuhnya

Bermain adalah cara terbaik bagi bayi dengan dunia yang baru.  Gunakan mainan yang berwarna kontras atau buku-buku tentang wajah bayi.  Mainan ini akan menarik perhatian bayi. Coba angkat tangan bayi ke atas kepalanya, hitung jari-jari bayi sembari menyentuhnya untuk mengenalkan kepada anggota tubuh bayi. Si bayi akan mengamatinya. Bayi sudah bisa menggenggam.  Jari kelingking kita bisa menjadi mainan favorit bagi bayi.  Bayi akan menendang-nendang dan bersuara mengguman yang menandakan dia mengajak kita mengobrol.

ASI untuk Si Bayi Umur Satu Bulan

Saat ini kebutuhan bayi akan ASI akan semakin meningkat, sehingga bayi akan sering meminta ibu untuk menyusuinya.  Ia akan mudah sekali merasa lapar, sehingga jadwal menyusui yang sudah diatur harus disesuaikan dengan kebutuhan bayi.  Imbangi juga kebutuhan menyusui bayi yang terus meningkat, dengan asupan makanan bergizi, agar produksi ASI ibu menjadi lancar dan kesehatan juga menjadi tetap prima.

Bagaimana bayi berkomunikasi? Menangis adalah bentuk komunikasi utama dari bayi berumur 1 bulan. Akan tetapi bayi sudah dapat mengeluarkan suara seperti bergumam, mendengkur, berdengung, atau bahkan tertawa ketika dia senang ataupun kenyang. Bila bayi menangis, segeralah untuk menghampirinya, jangan ragu juga untuk menanggapi ocehan bayi. Ada beberapa arti dari tangisan bayi yang dapat dikenali oleh ibu, diantaranya adalah :
  • Lapar: Perut bayi sangat kecil sehingga tidak dapat diisi terlalu banyak, sehingga menyebabkan ia cepat lapar. Menangis adalah cara bagi bayi untuk memberitahukan ibu, bahwa ia ingin menyusu.
  • Sakit: Ketika hidung bayi tersumbat disebabkan flue, peruta kembung, kolik atau demam, bayi akan menangis.  Periksa panas badan bayi, segera bawa ke dokter untuk tindakan lebih lanjut.
  • Popok Basah/Kotor: Jika popok bayi basah atau kotor, bayi akan merasa tidak nyaman, sehingga dia akan menangis.
  • Kaget: Bayi akan merasa kaget / terkejut apabila mendengar suara keras atau gerakan yang tiba-tiba.
  • Bosan: Bayi akan menangis jika dia merasakan bosan, segera gendong atau timang bayi untuk segera menenangkannya kembali.

Perkuat Ikatan Batin dengan Bayi Ibu

Bayi akan senang jika ibunya berada di dekatnya.  Gerakan kaki dan tangan bayi dengan lembut dan terus lakukan dengan memijat untuk mendekatkan hubungan kita dengan bayi.  Peluklah bayi dengan erat ketika sedang menyusui, timang-timang dan gendong sambil diajak untuk berbicara dengan suara yang lembut sehingga bayi merasa dicintai dan juga dilindungi.  Kedekatan fisik dapat membantu memperkuat ikatan batin dengan bayi.

Perkembangan Penglihatan Bayi Ibu

Pada usia satu bulan, penglihatan bayi sudah mulai berkembang. Walaupun masih sangat terbatas tapi saat ini ia sudah dapat berinteraksi dengan lingkungan.  Bayi sudah dapat menatap wajah ibu dan melotot.  Bayi juga sudah mulai tertarik terhadap benda-benda bergerak dan wajah kita. Ajaklah bayi untuk bermain dengan mainan-mainan yang berbunyi dapat membantu kita untuk melakukan permainan. Gerakan mainan yang berbunyi di dekat mata bayi, gerakan ke kiri dan ke kanan, atau ke atas dan ke bawah, mendekat dan menjauh. Bukankah gampang?

Setiap Bayi Berbeda Satu Sama Lain

Yang perlu diingat adalah bahwa setiap bayi berbeda antara satu dengan yang lain. Tahap-tahap perkembangan dan pencapaian yang berhasil dicapai oleh bayi mungkin akan berbeda.  Jadikan tahap pencapaian sebagai panduan, akan tetapi jangan khawatir apabila bayi kita sedikit terlambat.

8 Cara Cerdas Memanjakan Anak

Penelitian menyebutkan bahwa, memanjakan bayi akan membuat bayi lebih cerdas dan pintar. Hasil penelitian Por. Darcia Narvaes dan tim dari Fakultas Psikologi Universitas Notre Dame Amerika Serikat menyebutkan bahwa, dengan memanjakan bayi secara tepat, maka potensi perkembangan otaknya akan lebih baik, sehingga ia tumbuh lebih cerdas. Nah 8 cara memanjakan bayi yang akan membuat bayi cerdas adalah sebagai berikut :

1. Menggendong.
Banyak sekali manfaat dari kebiasaan menggendong bayi, diantaranya adalah :
-       Bayi merasa aman, nyaman, terlindungi, merasa disayangi, dekat dan lainnya. Dan tidak mengherankan ketika bayi menangis karena kesepian, ketakutan, kaget ataupun penyebab lain, dia akan berhenti menangis ketika dia digendong.
-      Banyak hal dapat dilakukan oleh orang tua ketika menggendong bayi, diantaranya adalah bayi diajak komunikasi, bermain, dikenalkan dengan hal baru, melihat ekspresi wajah dan lain sebagainya.
-      Bagi bayi yang sering digendong maka akan lebih banyak mengenal lingkungan sekitarnya.  Karena biasanya bayi akan digendong ke dapur, ruang tengah, teras, halaman, taman perumahan dan lainnya.  Jika tidak sering digendong, maka bayi hanya akan melihat langit-langit kamar atau gantunganan di boks bayi.  Dengan melihat beragam lingkungannya, maka wawasan anak akan lebih meningkat
-       Bayi yang sedang digendong dapat mendukung pemberian ASI ekslusif. Di samping selalu berdekatan, jalinan kedekatan dengan ibunya juga terus bertambah.  Demikian juga dengan rasa sayang dan perhatian, hal tersebut akan membuat ibu semakin keras berusaha memberikan sesuatu yang terbaik bagi anaknya yakni ASI eksklusif.
-       Walaupun menggendong mempunyai dampak positif, tetapi jangan lupa juga berikan kesempatan bagi bayi untuk mengangkat kepala, berguling, tengkurap, duduk dan berjalan.  Lakukan hal tersebut sesuai dengan umur dan kemampuan bayi. Orang tua mempunyai waktu istirahat untuk melakukan kegiatan ini.

2. Pelukan.
Pada awal bulan kelahirannya, bayi akan menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.  Saat bayi masih dalamkandungan, kehangatan dan kedamaian didapatkannya dalam rahim ibu yang hangat dan nyaman.  Ketika dia terlahir ke dunia, bayi mendambakan kehangatan dan kenyamanan lewat pelukan.

Ketika orang tua memeluk sang bayi, bayi akan merasa aman, nyaman dan terlindungi.  Bayi akan merasa senang dan menikmati pelukan ibunya. Karena itu, pelukan pun menjadi kebutuhan bayi, sehingga saat kebutuhan itu datan, bayi akan mengeluarkan tanda berupa tangisan dan rengekan.

Sebagai orang tua tidak perlu takut saat memaluk bayi akan membuatnya manja.  Kedekatan dan kehangatan antara orang tua dan bayi sangat penting bagi kedekatan emosinya. Pelukan adalah salah satu cara untuk menunjukkan kasih sayang.  Pelukan juga merupakan kedekatan fisik yang menunjukkan pula kedekatan emosi yang dalam.  Ada ahli yang mengatakan bahwa pelukan dapat menurunkan rasa cemas, takut, kesepian dan emosi negatif lainnya serta berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan anak. Hal ini ketika anak dipeluk, anak akan mengeluarkan hormon oksitosin yang menenangkan anak dan mengurangi stress.

3. Tidur bersama.
Sebuah penelitian menyatakan bahwa tidur bersama dalam satu ranjang dipercaya dapat membangun ikatan emosi yang kuat antara orang tua dan bayi.  Hal ini akan membuat bayi tidur dengan tenang. Akan tetapi tidur bersama bukan merupakan keharusan. Hal ini dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan rumah dan kondisi orang tua itu sendiri.

Ketika bayi berumur enam bulan pertama, disarankan agar bayi tidur bersama dengan orang tua.  Karena masa ini adalah pemberian ASI ekslusif. Dengan tidur dekat dengan orang tua dapat menyesuaikan pemberian ASI ekslusif, sekaligus dapat menjalin kedekatan antara ibu dan bayi.  Bahkan anjuran untuk tidur bersama tidak hanya untuk bayi berusia 6 bulan akan tetapi bayi berusia di atasnya, bahkan sampai ke anak.

4. Menjalin komunikasi.
Ketika ibu menggendong bayi, tataplah mata bayi.  Ajak si bayi dengan kata-kata lembut dan kata-kata positif.  Ceritakan apa yang ada di sekilingna, misalnya, suara apa yang didengar bayi, benda apa yang dilihat. Katakan pada bayi apa yang sedang dikerjakan, misalnya katakan pada bayi ketika sedang mengganti popok karena si dia mengompol.  Mengajak bayi berbicara akan membantu kecerdasan bayi dalam berbahasa. Dan ini sekaligus menjadi bentuk perhatian orang tua kepada bayinya. Semakin banyak komunikasi terjalin, maka akan semakin dekat hubungan orang tua dan bayi.
5. Berikan fasilitas terbaik.
Orang tua hendaknya memenuhi kebutuhan bayi seperti kebutuhan pangan, sandang juga papan.  Fasilitas tersebut hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan tahapan perkembangan bayi.  Kebutuhan sandang bayi meliputi baju, popok, kaus kaki, sarung tangan, topi, selimut, handuk dan lainnya. Untuk kebutuhan pangan seperti ASI, makanan pendamping ASI, biskuit, buah, sayuran, dan lainnya. Kebutuhan papan bayi seperti berkaitan dengan tempat tinggal, termasuk ruang tidur dan berbagai benda yang berguna untuk menstimulasi bayi seperti mainan edukasi.

Berikanlah fasilitas bayi sesuai dengan perkembangan dan kondisi si bayi. Untuk kebutuhan sandang misalnya pilih bahan lembut seperti katun atau kaus yang dikhususkan bayi baru lahir karena kulit bayi masih sangat halus dan sensitif. Sesuaikanlah kebutuhan bayi dengan perkembangannya.

6. Respons tangisan dengan tepat.
Menangis adalah cara bayi mengatakan apa yang dialaminya kepada orang-orang di sekitarnya. Menangis terjadi ketika bayi merasa lapar, haus, marah atau tidak nyaman. Karenanya ketika si bayi menangis segeralah memberinya respons.  Merespons kebutuhan bayi sama saja dengan memenuhi kebutuhan si bayi.  Apabila kebutuhannya terpenuhi, maka akan tumbuh rasa percaya diri pada orang tua dan lingkungannya.

Agar respons yang diberikan tepat, maka orang tua wajib mengenali kebutuhan bayi dengan terus berinteraksi dengannya, mengantisipasi kebutuhan bayi dan kemudian memenuhinya. Bersikap tenang ketika bayi menangis adalah salah satu cara yang membuat bayi nyaman.  Bereaksi tepat saat bayi menangis juga sama pentingnya.  Sebab reaksi untuk bayi yang menangis karena lapar akan berbeda dengan reaksi bayi karena sakit ataupun kesepian.

Kita harus mengenali juga apa yang bayi sukai dan tidak disukainya, terutama yang membuat bayi merasa nyaman, marah dan menangis.  Selama respons yang diberikan orang tua adalah tepat, orang tua tidak perlu mengkhawatirkan bahwa apa yang mereka lakukan akan membuat si bayi manja.

7. Stimulasi tepat.
Stimulasi adalah sebuah cara untuk mendorong atau memaksimalkan tumbuh kembang anak. Stimulasi sangat baik jika dilakukan sejak dini, bahkan sejak anak berada dalam kandungan kemudian dilanjutkan ketika bayi dilahirkan. Tujuan pemberian stimulasi adalah untuk memaksimalkan tumbuh kembang si anak.

Dalam setiap rentang perkembangannya, ada beberapa aspek yang perlu distimulasi. Untuk bayi yang baru lahir, alangkah baiknya jika dititikberatkan pada pengembangan kemampuan panca indranya.  Sebagai contoh, gunakan mainan berwarna yang digantung kurang lebih 30 cm untuk menstimulasi penglihatan.

Untuk bayi 2-4 bulan, bayi sudah mampu untuk berguling dan mengangkat kepala.  Gunakan stimulasi  dengan memanfaatkan mainan berbunyi yang diletakkan di sisi bayi agar mau berguling.  Langkah selanjutnya, letakkan mainan di depannya agar bayi tersebut berusaha untuk meraihnya.

Untuk usia bayi 6-8 bulan, bayi sudah mulai mampu berdiri dan merambat.  Untuk menstimulasinya, gunakan pembatas atau playpen yang dibuat dari alumunium atau kayu dengan jarak tertentu, sehingga tidak membahayakan dan dapat dimanfaatkan untuk bermain dan juga sebagai rambatan.

Untuk usia 9-12 bulan, bayi sudah mulai berjalan.  Ajaklah bayi untuk berjalan berkeliling di sekitar lingkungan terdekatnya di pagi dan sore hari, sekaligus mengembangkan ketrampilan berjalan.
Lakukan komunikasi dan kontak mata ketika menstimulasi bayi.  Dengan demikian, orang tua dan bayi akan bisa berlangsung lebih erat, sekaligus juga untuk mengetahui respons bayi. Manfaatkan mainan atau berbagai benda yang ada di sekitarnya.  Ketika stimulasi sedang berlangsung, pastikan anak sedang dalam kondisi sehat, cukup tidur, dan juga cukup makan.  Lebih baik lagi dilakukan sambil bermain atau juga melakukan kegiatan sehari-hari.

8. Nutrisi tepat.
Nutrisi sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.  Nutrisi yang tepat tidak hanya membuat anak menjadi sehat, akan tetapi menjadikannya cerdas.  Bahkan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan dan tahapan perkembangan bayi.

Untuk bayi baru lahir, utamanya adalah ASI. Selanjutnya, setelah berusia enam bulan dapat mengonsumsi MPASI. Berikan MPASI sesuai dengan prinsip gizi cukup dan seimbang. Pilih makanan yang aman dan hindari makanan yang berisiko mencetuskan alergi seperti telur, ikan dan lainnya.

6 Kunci Sukses Menjadi Orang Tua yang Baik

Hal yang sangat penting bagi orang tua adalah bahwa semua ajaran yang diberikan pada anak-anaknya akan memotivasi anak secara alami dan menumbuhkan rasa percaya diri dan menghargai diri sendiri. Ajaran-ajaran yang diberikan orang tua oleh kedua orang tua juga akan membuat anak-anak merasa diperhatikan dan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya.  Apabila anak sudah mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup dari orang tuanya, maka orang tua tidak perlu khawatir anak-anak mereka terlibat dengan kumpulan gangster, drugs, dan kenakalan remaja lainnya. 
Informasi berikut adalah kunci sukses menjadi orang tua yang baik :


Gunakan ‘natural consequences
Natural consequences yang dimaksud di sini adalah dengan membiarkan anak untuk mendapatkan akibat dari yang akan dihadapinya, jika si anak melakukan sesuatu yang menjadi pilihannya. Contohnya adalah tatkala anak lupa untuk membawa bekal untuk makan siangnya, ibu tidak perlu untuk membawakannya bekal.  Dan jadikan pengalaman ini sebagai sebuah pelajaran bahwa mengingat sesuatu itu sangatlah penting, jangan sampai lupa.

Utamakan perbuatan bukan ‘kata’
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa dalam 24 jam orang tua memberikan 2000 perintah.  Cara memerintah yang baik adalah dengan memberikan contoh perilaku dan perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh anak.  Misalnya jangan hanya memerintahkan anak untuk membersihkan sepatu setelah memakainya.  Ibu atau orang tua dapat memberitahukan bagaimana cara merapikan sepatu yang baik kepada sang buah hati.

GEMS (Genuine Encounter Moments)
GEMS adalah salah satu dari kunci sukses menjadi orang tua yang baik, karena hasilnya anak akan merupakan salah satu kunci sukses menjadi orang tua yang baik karena sang anak akan mendapatkan rasa untuk menghargai diri sendiri dari adanya kualitas waktu yang dihabiskan oleh kedua orang tuanya untuk bergaul dan berkomunikasi secara langsung dengan sang anak. Waktu  yang berkualitas yang dimanfaatkan orang tua dengan anaknya lebih utama dibandingkan dengan dengan banyaknya waktu waktu yang dihabiskan bersama anak.

Jadilah orang tua yang konsisten
Orang tua harus memberikan contoh yang konsisten kepada anak. Sebagai contoh, ketika orang tua tidak dapat membelikan permen untuk anaknya, orang tua tidak perlu memberikan janji bahawa sang ibu / ayah akan membelikan permen.
Biarkan anak merasa ‘kuat’ (powerful)
Kunci sukses menjadi orang tua berikutnya adalah dengan membiarkan anak mempunyai kekuatan di dalam mengambil keputusan, dan mempunyai pilihan, dan lain sebagainya.  Contohnya adalah membiarkan anak untuk memilih menu makanan yang akan di bawa ke sekolah atau membantu sang ibu untuk membantu berbelanja. Akan tetapi pengawasan sepenuhnya tetap ada di tangan orang tua.

Menghindari Konflik dengan anak
Anak-anak pada kenyataannya, emosinya tidak stabil.  Jika anak mulai marah dan berteriak-teriak kepada kita, kita dapat menghindarinya dengan cara berpindah tempat dan posisi kita semakin jauh dengan anak.  Jika anak masih marah dan tetap berteriak, bergeraklah semakin menjauh, dan katakan pada anak jika anak masih berteriak dan menangis, ibu akan semakin menjauh dengan anak. Cara seperti ini adalah cara yang lumayan efektif untuk meredakan emosi sang anak.