Menjadi orang tua baru tentu
membahagiakan. Namun, kebahagiaan terkadang berubah menjadi kepanikan
tatkala si kecil mendadak sakit. Nah, ada baiknya Anda mengenali 10
penyakit pertama bayi, seperti dipaparkan Dr. Kusnandi Rusmil, Sp.A dari
RS Hasan Sadikin, Bandung berikut ini. 1. BATUK-PILEK
Batuk-pilek pada bayi bisa karena banyak faktor. “Sebagian besar
penyebabnya virus, yang jenisnya ada ratusan banyaknya. Biasanya sembuh
sendiri, kok. Gejalanya, hidung berair, kadang tersumbat, lalu diikuti
batuk dan demam.”
Selain virus, batuk-pilek juga bisa
karena bakteri. Biasanya disertai panas dan gejalanya lebih berat, yaitu
tenggorokan berwarna merah. Harus diberi antibiotik. Jika terus
berlanjut, bisa berakibat komplikasi radang telinga tengah. “Namun,
sakit telinga tak selalu terjadi pada batuk pilek.”
Jika cairan atau lendir banyak keluar
dari hidung bayi dan membuat napas tersumbat, beri obat tetes hidung
atau sedot cairan hidung dengan alat khusus. “Yang penting, penyebabnya
dulu yang diobati. Karena virus belum ada obatnya, maka pertahanan tubuh
si bayi-lah yang harus ditingkatkan.”
Biasanya, batuk-pilek pada bayi
terjadi sekitar lima hari. Jika panas tubuh bayi tak turun-turun hingga 2
– 3 hari, segera bawa ke dokter. “Orang tua tak perlu cemas jika bayi
batuk-pilek. Jika disertai panas, beri obat panas. Jangan lupa, beri
nutrisi yang baik, terutama yang mengandung vitamin dan mineral, seperti
buah-buahan atau jus, minum yang banyak, terutama ASI.”
2. INFEKSI TELINGA
Infeksi telinga dapat disebabkan batuk-pilek oleh virus yang
terus-menerus, sehingga virus masuk ke dalam saluran telinga. “Bisa juga
karena telinga kemasukan air yang mengandung kuman, sehingga
mengakibatkan peradangan saluran telinga tengah.”
Gejalanya, sakit pada telinga dan
panas yang tidak turun-turun selama 2 – 3 hari. “Harus segera dibawa ke
dokter. Kalau tidak segera ditangani, gendang telinga bayi bisa meradang
dan pecah.”
Jika tak diobati, lama-lama radang
telinga akan makin parah dan dapat menimbulkan nanah. “Jika nanah pecah,
cairan itu akan keluar dari telinga dengan bau yang tidak enak. Efek
jangka panjangnya, sistem pendengaran rusak.”
3. DIARE
Seperti halnya batuk-pilek, diare pada bayi juga bisa karena bermacam
faktor, dari makanan yang tercemar kuman atau virus, keracunan makanan,
sampai alergi susu. Diare pada bayi umumnya dapat dilihat dari jumlah
cairan yang keluar melalui buang air besar (BAB) yang lebih banyak dari
cairan yang masuk. Frekuensi BAB-nya lebih dari tiga kali sehari. Jadi,
harus diberi banyak cairan supaya tidak terjadi dehidrasi.
Pencegahannya, beri bayi minum,
misalnya oralit, minuman yang mengandung ion, atau minuman yang
mengandung probiotik, seperti yoghurt untuk membantu keseimbangan kuman
dalam perut. “Bayi enam bulan sudah boleh, kok, diberi minuman
mengandung ion atau probiotik.”
Kusnandi juga menegaskan, obat diare
yang paling ampuh bagi bayi sebenarnya ASI, karena mengandung obat
anti-virus atau kuman yang dapat mencegah dan mengurangi lamanya
penyakit bersarang di dalam tubuh bayi.
Diare yang disertai demam, lanjut
Kusnandi, paling sering disebabkan oleh virus. “Semua penyakit karena
virus, tidak ada obatnya. Yang penting, meningkatkan daya tahan tubuh
dan mengatasi kehilangan cairan tubuh dengan banyak-banyak minum,
terutama ASI.”
Sementara diare disertai muntah,
biasanya disebabkan karena rangsangan ke dalam saluran pencernaan.
“Rangsangan itu bisa macam-macam, bisa oleh kuman atau racun zat kimia.
Sekali lagi, yang penting adalah memberi minum yang banyak. Bisa juga
diberi obat anti muntah oleh dokter,” kata Kusnandi seraya mengingatkan
agar orang tua tidak memberi bayi obat pemampat feses atau tinja. “Jika
tinja mampat, kuman enggak mati, malah berkumpul di dalam usus. Lebih
baik kuman dikeluarkan dulu melalui BAB. Setelah kuman habis, otomatis
diare akan berhenti dengan sendirinya,” kata Kusnandi mengingatkan.
4. BATUK PLUS SESAK NAPAS
Pada bayi yang memiliki potensi alergi atau asma, batuk pilek lama-lama
bisa menimbulkan sesak napas. “Batuk-pilek ini terjadi akibat kuman yang
lama-lama menyebar ke paru-paru. Bisa mengakibatkan gejala radang
paru-paru, yaitu sesak napas,” ujar Kusnandi.
Jika sudah menyerang paru-paru,
berarti sudah masuk ke tahap serius dan harus betul-betul diobati.
“Tanda-tanda sesak napas ini dapat dilihat secara fisik, antara lain
bayi bernapas lewat hidung, sehingga cuping hidung kembang-kempis,
napasnya cepat, setiap bernapas seperti ada yang menariknya hingga
dadanya cekung.”
Penanganan gejala-gejala serius ini
harus lebih teliti. Bila perlu dirawat di RS untuk diberi oksigen. “Jika
sudah sampai ke tahap serius, tak bisa lagi hanya diberi perawatan di
rumah. Bisa bahaya dan harus segera ditolong dokter,” tegas Kusnandi.
5. SAKIT TENGGOROKAN
Sakit tenggorokan pada bayi bisa karena kuman atau virus yang menyerang
tenggorokan. “Tanda-tanda fisiknya, tenggorokan berwarna merah, yang
dapat terlihat di bagian leher. Bayi juga terlihat seperti kesakitan,
rewel, dan biasanya sulit menelan.”
Jika disebabkan virus, biasanya dokter
akan memberi obat pengurang rasa sakit, vitamin, dan dianjurkan diberi
makan yang banyak, terutama jus buah, sayur bening, dan ASI, agar
tubuhnya kembali kuat. Namun jika penyebabnya kuman, dokter akan memberi
antibiotik. “Bisa berupa sirup atau puyer. Puyer lebih ekonomis dan
dosisnya bisa lebih tepat, karena dihitung per kilogram berat badan
bayi. Efektivitasnya, sih, sebenarnya sama saja dengan sirup.”
6. SEMBELIT
Penyebab sembelit bisa karena kurang makan makanan berserat. Oleh karena
itu, bayi sebaiknya diberi banyak buah, sayuran, dan ASI. “Berikan
puding atau agar-agar, buah-buahan, dan sayuran. Untuk bayi yang belum
bisa makan, berilah ASI sebanyak mungkin. Biasanya, bayi yang masih
minum ASI jarang sembelit, kecuali bayi yang diberi susu formula.
Mungkin susunya kurang cocok.”
Untuk mengatasi sembelit, pilih susu
yang cocok. “Sementara dokter biasanya akan memberi obat untuk
melancarkan BAB-nya.” Namun, ada juga bayi baru lahir yang tak bisa
buang air besar. “Keluhannya, perut kembung dan sering muntah. Itu
karena saraf dari usus kurang, sehingga gerak peristaltiknya pun
berkurang. Ini penyakit bawaan, harus dioperasi untuk membuang usus yang
tidak ada sarafnya. Kasus seperti ini sering terjadi pada bayi baru
lahir,” terang Kusnandi.
7. INFEKSI SALURAN KEMIH
Selain sulit BAB, infeksi saluran kemih juga sering terjadi pada bayi
yang baru lahir. “Banyak terjadi pada bayi perempuan, karena saluran
kemih perempuan lebih pendek dari saluran kemih bayi laki-laki, sehingga
kuman lebih gampang masuk ke dalam tubuh. Jika bayi panas tanpa diserta
batuk-pilek atau sakit telinga, orang tua harus selalu berpikir bahwa
ini bisa saja sakit radang saluran kemih.”
Gejala infeksi saluran kemih hanya
panas atau air kencingnya sedikit, dan bayi merasa nyeri di daerah perut
atau kesakitan saat buang air kecil/kencing. “Kadang-kadang, radang
atau infeksi saluran kemih ini tidak bergejala juga. Buang airnya pun
normal. Justru jika gejala tak muncul, sangat berbahaya karena dapat
merusak ginjal.” Oleh karena itu, jika bayi demam lebih dari 38,5 0
Celcius, segera periksakan ke dokter.
8. MUNTAH
Muntah atau gumoh disebabkan karena perut bayi yang baru lahir ukurannya
masih sangat kecil. “Daya tampungnya masih sedikit. Kalau terlalu
banyak diberi susu, dia akan memuntahkan susunya kembali.”
Oleh karena itu, untuk bayi yang
diberi susu formula, pada saat disusui, posisi botol susu dan botol
harus pas dengan mulutnya agar udara tidak ikut masuk ke dalam mulut
bayi. Udara yang ikut masuk ini dapat menyebabkan bayi muntah. Sementara
untuk bayi yang disusui ASI, posisi menyusui harus betul dan pas. Usai
disusui, gendong bayi dengan posisi seperti berdiri hingga bersendawa.
Setelah itu bayi ditidurkan dengan posisi miring ke kiri.
9. ALERGI
Banyak hal yang dapat menyebabkan alergi pada bayi. “Yang paling sering
alergi susu sapi atau susu formula. Jika ibu atau keluarganya punya
bakat alergi, bayi pun jadi gampang alergi. Sebagian besar alergi timbul
karena makan telur, sea food, dan susu formula.”
Untuk menghindarinya, ibu menyusui
sebaiknya menghindari konsumsi makanan alergen seperti telur,
kacang-kacangan, sea food, atau makanan pemicu alergi. “Pasalnya, alergi
ini dapat langusng terbawa melalui ASI. Dokter biasanya memberikan susu
anti-alergi khusus untuk bayi yang memiliki bakat alergi atau alergi
pada susu formula. Susu antialergi ini mudah didapat dan sudah banyak
dijual, kok.”
10. RUAM POPOK
Usai buang air atau pipis, popok bayi harus segera diganti agar tidak
menimbulkan iritasi atau merah-merah pada kulit bayi. Jika kulit bayi
mengalami iritasi, kuman akan lebih mudah masuk ke dalam tubuh bayi.
Untuk mencegahnya, gantilah popok sesering mungkin dan pakaikan pampers
yang dapat menyerap banyak air.
Untuk popok kain, sebaiknya
rajin-rajin mencuci popok. “Teknologi sudah semakin canggih, orang kini
menciptakan pampers yang dapat menyerap air lebih banyak agar lebih
praktis. Namun, bukan berarti bayi harus seharian pakai pampers yang
itu-itu terus. Udara juga harus bisa keluar masuk, dong. Hanya saja,
kelebihan pampers dapat mengurangi frekuensi pergantian popok,
dibandingkan popok kain.”
Pengobatan untuk ruam popok, jika
kulit bayi terkena popok basah, dapat diobati dengan memberikan bedak,
talek, atau salep. “Tetapi yang paling penting harus sesering mungkin
mengganti popok atau pampers. Artinya, kondisi kulit bayi harus tetap
dalam keadaan kering.”
WASPADA BILA …
Selain 10 penyakit di atas, ada beberapa tanda pada bayi yang harus diwaspadai dan segera dibawa ke RS, antara lain:
1. Kejang
Jika bayi kejang disertai panas atau tanpa panas, harus segera di bawa
ke RS untuk mengetahui penyebab kejangnya. Setiap kejang, akan
mengakibatkan terjadinya kerusakan otak, sehingga bayi tidak boleh
kejang. Jadi, secepatnya harus diatasi. Jika bayinya kejang disertai
demam, orang tua harus selalu membawa obat anti panas dan anti kejang.
Karena biasanya sakit kejang ini suka kambuh. Kemana pun si bayi pergi,
harus selalu membawa obat anti kejang untuk mencegah kejang. Jangan
sampai bayi sering kejang.
Pemicu kejang ini macam-macam, bisa
karena proses di kepala atau otak, atau di luar kepala. Kalau di dalam
otak atau kepala, kemungkinan ada infeksi di otak atau tumor di otak,
dan perdarahan di otak. Tapi yang terjadi di luar otak, bisa karena
kekurangan natrium atau garam dan gula, sehingga terjadi
gangguan-gangguan elektrolit. Misalnya karena sering diare, atau kejang
karena adanya elektrolit atau garam yang keluar dari tubuh.
2. Sesak napas
Jangan sampai bayi Anda sesak napas, apalagi sampai membiru. Itu
tandanya si bayi sudah kekurangan oksigen. Oksigen itu terutama
dialirkan ke dalam otak dan organ lainnya. Jika bayi Anda sesak napas,
secepatnya harus diatasi, apakah sesak itu disebabkan karena sumbatan
saluran napas, atau karena infeksi di paru-paru, harus segera diatasi
dan dibawa ke dokter.
3. Syok
Tanda-tandanya, denyut nadi tak teraba, muncul keringat dingin,
kesadaran berkurang, serta jumlah cairan tubuh berkurang. Penyebab syok
pada bayi bermacam-macam juga. Dapat dikarenakan kehilangan cairan
tubuh, misalnya demam berdarah, yang mengakibatkan cairan dari dalam
darah melalui pembuluh darah keluar menuju jaringan. Bisa juga karena
diare dan kekurangan cairan, terjadinya perdarahan, kelainan jantung,
atau karena syok lain yang disebabkan karena kesakitan yang biasa dokter
sebut dengan neorogenik shock. Perawatannya, harus harus segera
diinfus.
4. Tak sadarkan diri
Ini dapat terjadi karena adanya gangguan kesadaran. Setiap ada gangguan
kesadaran pada bayi, orang tua harus hati-hati dan harus segera
membawanya ke dokter. Ciri-ciri bayi yang tak sadarkan diri, secara
fisik dapat terlihat seperti mula-mula setengah sadar, mengacau, panas
tinggi, atau mungkin saja langusng tidak sadar. Di cubit pun, tak akan
merasakan sakit dan tak tahu apa yang terjadi disekelilingnya.
Kenali Gangguan Sensoris pada Anak
- Apakah anak Anda bereaksi berlebihan terhadap
suara keras, menghindari tekstur tertentu, tampak gerakan tidak
terkoordinasi, atau hanya tampak kurangnya pengendalian diri? Jika
demikian, ia mungkin mengalami beberapa jenis gangguan sensorik.
Semua anak-anak biasanya menjalani berbagai masalah sensorik sambil menjelajahi dan berinteraksi dalam lingkungan mereka. Ternyata gangguan sensoris pada anak sering disertai gangguan perilaku lainnya seperti anak sangat aktif tidak bisa diam, emosi tinggi, gangguan konsentrasi, gangguan oral motor (gangguan mengunyah menelan atau gangguan bicara), gangguan tidur malam dan gangguan belajar. Gangguan sensoris sering terjadi pada penderita Sensory Prossecing Disorders, Autism, ADHD dan penderita alergi atau hipersensitif saluran cerna. Namun sebagian anak normal juga mengalami gangguan sensoris tersebut.
Sebagian anak dengan gangguan sensoris sangat sensitif terhadap rangsang suara tertentu, perabaan dan sensitif terhadap suara frekuensi tinggi, cahaya atau mudah silau, perabaan telapak kaki dan tangan sensitif jalan jinjit, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan binatang berbulu. Pada beberapa anak, merasa tidak nyaman bila memakai kaos yang ada label atau merek kaos di punggung atas sehingga sering minta dilepas atau sering dipegang.
Rasa perabaan sensoris kaki sangat sensitif bila lantai kotor sedikit atau berpasir sering geli dan harus pakai sandal, biasanya bila berjalan tidak menapak baik sehingga sering jalan tidak sempurna jalan jinjit, miring, kaki O atau X, sandal atau sepatu seringkali ausnya tidak rata atau tidak seimbang kiri kanan.
Gangguan sensorik memiliki banyak penyebab dan digabungkan dalam banyak diagnosa medis lainnya. Pada penderita Autisme, ADHD, dan Delay Pervasive Developmental gangguan sensorik memainkan peran penting. Identifikasi dini sering menyebabkan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat untuk individu yang bersangkutan.
Gangguan sensorik dapat mempengaruhi satu, beberapa, atau semua indera fisik. Ada 7 kategori yang meliputi fungsi sensorik kita. Kelompok-kelompok ini adalah: taktil (sentuhan), auditori (pendengaran), visual (penglihatan), rasa, pencium (bau), vestibular (gerakan dan gravitasi), dan proprioseptif (kesadaran tubuh, otot, dan sendi). Kebanyakan orang mengalami gangguan sensorik baik hipersensitif (lebih dirangsang) atau sensitif hipo (di bawah dirangsang). Bila salah satu rasa mengalami gangguan maka dapat mempengaruhi beberapa fungsi tubuh lainnya. Jika satu atau lebih indera terganggu, pesan sensorik yang dikirim ke otak tidak benar. Pesan-pesan ini menjadi kacau, menyebabkan individu menderita untuk memahami lingkungan mereka dengan cara yang berbeda. Realitas disalahtafsirkan, menyebabkan penilaian yang salah.
Tanda dan gerjala 3 gangguan sensoris
- Perabaan : Menghindari sentuhan, nyeri toleransi yang tinggi, koordinasi yang buruk, membersihkan tangan atau bagian tubuh lainnya sering, tidak suka dandan (menyikat gigi atau rambut, dll), menempatkan tangan atau jari di mulut sering, terus bergerak , berjalan berat atau pada jari kaki, menghindari tekstur tertentu dalam makanan, pakaian, atau bahan lainnya, dan pakaian tidak suka memakai, tag pakaian, kaus kaki, atau sepatu. Jalan jinjit atau sering membersihkan kaki dari kotoran atau saat berjalan di tanah sering harus memakai sandal.
- Auditori : Sangat sensitif terhadap suara dengan frekuensi tertentu seperti suara gergaji listrik, suara blender, suara bayi menangis atau suara melengking lainnya. Penderita juga sangat sensitif dan sanagat bereaksi terhadap suara keras, mudah marah atau tampaknya mengabaikan orang lain, sering menutup telinga, berulang bersenandung atau menyanyi untuk diri, menghindar kelompok besar orang, mendengarkan TV, radio, dll, pada volume tidak wajar tinggi, terganggu oleh keributan lingkungan, hambatan berbicara, merobek atau kertas berkerut atau barang-barang seperti lainnya, dan ingin mengabaikan suara orang lain.
- Visual : Mudah silau atau tidak nyaman dengan sinar matahari atau lampu yang terang. Ditandai dengan gangguan pandangan, Saar memandang mainan, buku, dll haris didekatkan ke wajah, posisi objek dalam baris, membuka dan menutup berulang pintu atau laci, terus balik lampu dan mematikan, terpesona oleh benda mengkilat atau reflektif (cermin, kaca, dll), gosok sering atau menyipitkan mata dari mata, gelisah dengan gerakan terdekat di lingkungan, keengganan atau berolahraga hati-hati kadung saat berpindah antara berbagai jenis penutup lantai, dan tampaknya terlalu sensitif terhadap cahaya.
Gangguan Sensoris biasanya disertai gangguan lain seperti:
- Susunan safar pusat : sakit kepala, migren, TICS (gerakan mata sering berkedip), kejang nonspesifik (kejang tanpa demam dan EEG normal).
- Gerakan motorik berlebihan pada bayi : Mata sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Pada Anak lebih besar : Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”). ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
- Gangguan tidur : Pada bayi : malam sering terbangun sering dikira haus atau sering dikira ASI ibu kurang sehingga minum ASI berlebihan, akibatnya BB anak naik berlebihan karena terlalu banyak minum. Pada anak dan dewasa : sulit untuk memulai tidur malam atau tidur larut malam, tidur bolak-balik dari ujung ke ujung tempat tidur, berbicara ,tertawa, berteriak atau berjalan saat tidur, mendadak terbangun duduk saat tidur kemudian tidur lagi, mimpi buruk, “beradu gigi” atau gigi gemeretak atau bruxism.
- Agresif meningkat pada bayi : sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (seperti “gemes”). Pada anak lebih besar : mudah memukul, menggigit, mencubit. Pada dewasa : mudah memukul atau menampar orang lain, berlaku kasar terhadap anak , istri atau suami.
- Gangguan konsentrasi : cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antre, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS. Pada dewasa : mudah lupa (short memory lost), sering lupa meletakkan kunci, lupa nama teman tetapi memori lama kuat.
- Emosi tinggi : mudah marah, sering berteriak, mengamuk, tantrum, keras kepala, negatifisme dan mudah menyangkal (deny) sangat tinggi.
- Depresi dan mudah cemas : mudah marah, sedih berlebihan, mudah tersinggung, sering kesepian, mudah menangis meski masalahnya ringan
- Gangguan keseimbangan koordinasi dan motorik : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak,
- Gangguan oral motor : terlambat bicara, bicara terburu-buru, cadel, gagap. Gangguan mengunyah menelan: , seringkali pilih bila makan hanya suka makan krispi, kerupuk atau yang renyah (sayur hanya wortel, brokoli, kentang, bayam). Tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur tertentu, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi. pada dewasa seringkali makan sangat cepat tanpa dikunyah.
- Impulsif : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain, bila bicara sangat cepat banyak dan sulit berhenti. Menangis dan tertawa berubah bergantian dengan cepat.
Cermati tanda dan gejala gangguan saluran cerna pada penderita alergi yang menyertai penderita gangguan sensoris
Pada penderita gangguan sensoris sering disertai gangguan hipersensitif saluran cerna atau alergi saluran cerna. Gangguan saluran cerna sebagai sindrom atau kesatuan gangguan alergi asma, rinitis, dermatitis dan gangguan alergi lainnya.
Penderita alergi biasanya tidak hanya mengalami satu gejala saja, misalnya asma, hidung, dermatitis (alergi kulit) atau hanya saluran cerna. Penderita alergi biasanya terganggu beberapa organ tubuhnya khususnya saluran cernanya secara bersamaan meski dalam bentuk ringan. Tetapi sayang dalam praktek sehari-hari untuk menilai gangguan alergi sebagian dokter seringkali hanya memandang satu keluhan saja dalam penanganan sebuah penyakit. Misalnya dokter kulit hanya melihat gangguan dermatitis padahal saluran cernanya bermasalah juga karena alergi.
Sedangkan dokter ahli pernapasan atau paru hanya memandang asma sebagai masalah utama, padahal penderita asma juga sering mengalami gangguan saluran cerna seperti gastrooesephageal refluks, mual atau nyeri perut. Demikian juga ahli THT hanya melihat gangguan sinusitis yang dipicu alergi, tetapi tidak melihat keluhan sensitif saluran cerna. Sebaliknya, dokter ahli saluran cerna hanya melihat keluhan saluran cerna tersendiri padahal keluhan asma, rinitis dan dermatitis yang menyertai adalah termasuk kesatuan dalam gangguan penyakit itu.
Alergi makanan harus dicurigai sebagai penyebab gangguan manifestasi alergi selama ini bila terdapat gangguan saluran cerna. Tetapi sayangnya gangguan saluran cerna tersebut sangat ringan dan dianggap biasa sehingga lepas dari pengamatan penderita ataupun bahkan seorang dokter ahli. Bila hal ini terjadi maka seringkali terjadi kesalahan dalam mengidentifikasi penyebab alergi. Sehingga sering overdiagnosis, bahwa penyebab alergi adalah debu dan udara dingin, padahal alergi makanan sangat mungkin berperanan penting.
Gangguan saluran cerna yang terjadi adalah :
- Pada Bayi : bayi mengalami gastrooesepageal refluks, sering muntah/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis atau hidrokel. Air liur berlebihan. Lidah atau mulut sering timbul putih, bibir kering dan kadang kehitaman sebagian
- Pada Anak dan Dewasa : Pada usia anak keluhan muntah semakin berkurang tetapi masih sering mengalami mudah muntah bila menangis, berlari atau makan banyak atau bila naik kendaran bermotor, pesawat atau kapal. Sering mengalami mual terutama pagi hari bila hendak gosok gigi atau sedang disuap makanan.Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering glegekan, sering kembung, sering buang angin dan buang angin bau tajam. Sering nyeri perut. Pada penderita dewasa sering megalami gejala penyakit “maag”, dyspepsia atau Iritable Bowel Syndrome.
Penanganan
- Anak-anak yang berjalan jinjit kemungkinan besar mengalami masalah sensorik. Sehingga bisa dilakukan terapi sensoris meski terjadi pada anak normal.
- Intervensi dini merupakan kunci, baik untuk yang memang dicurigai autisme atau memang berjalan jinjit karena gangguan sensorik.
- Kebanyakan kondisi ini akan membaik sendiri selama masa kecil.
- Pengobatan penderita gangguan sensoris dengan disertai jalan jinjit jarang diperlukan untuk anak-anak yang berusia 6 tahun ke bawah. Penderita jalan jinjit disertai pemendekan tendon Achilles atau otot betis. Mungkin diperlukan operasi.
- Bila gangguaj sensoris disertai gangguan alergi saluran cerna sebaiknya dikonsultasikan pada dokter alergi atau ahli l;ainnya. Ternyata saat dilakukan pengendalian alergi gangguan sensoris yang tiimbil bisa berkurang.
Terapi Sensoris- Tidur telentang dan diam (tidak bergerak). Terapi ini bertujuan agar si kecil mampu merasakan (aware) keberadaan dirinya.
- Usapan meyeluruh dari kepala, bahu, tangan, pinggang, paha, kaki, telapak kaki bertujuan untuk menenangkan,relaksasi otot-otot yang tegang.
- Usapan di bagian kepala, termasuk amat, hidung, mulut, telinga. Bertujuan untuk relaksasi mengurangi sensitivitas pancaindra, dan meningkatkan awareness terhadap organ indra.
- Usapan berbentuk angka 8 di pinggang ke paha, juga dari dada ke lengan. Berfungsi sebagai brain gym pasif, salah satu bentuk stimulasi untuk melatih koordinasi gerak tubuh.
- Usapan di Tendon Guard (lipatan bahu, bawah rusuk, atas tulang panggul). Bertujuan untuk relaksasi tendon sekaligus mengencangkan otot-otot yang lembek.
- Usapan di kaki. Bertujuan untuk melatih reflex babinski. Bagi yang refleksnya terlalu besar, dikurangi. Biasanya, ini dilakukan pada anak yang berjalan jinjit.
- Tidur miring, diusap sepanjang sisi abdomen. Bertujuan untuk mengenalkan reflex gallant (keseimbangan kanan dan kiri). Saat masa sekolah, ini bisa mengurangi resiko kesulitan belajar.
- Usapan di bahu (mobilisasi bahu) bertujuan agar pada anak-anak kebutuhan khusus, biasanya, bahunya selalu naik karena tegang (sikap defensif). Usapan berguna untuk merilekskan dan mengurangi sensitivitas bahu.
Semua anak-anak biasanya menjalani berbagai masalah sensorik sambil menjelajahi dan berinteraksi dalam lingkungan mereka. Ternyata gangguan sensoris pada anak sering disertai gangguan perilaku lainnya seperti anak sangat aktif tidak bisa diam, emosi tinggi, gangguan konsentrasi, gangguan oral motor (gangguan mengunyah menelan atau gangguan bicara), gangguan tidur malam dan gangguan belajar. Gangguan sensoris sering terjadi pada penderita Sensory Prossecing Disorders, Autism, ADHD dan penderita alergi atau hipersensitif saluran cerna. Namun sebagian anak normal juga mengalami gangguan sensoris tersebut.
Sebagian anak dengan gangguan sensoris sangat sensitif terhadap rangsang suara tertentu, perabaan dan sensitif terhadap suara frekuensi tinggi, cahaya atau mudah silau, perabaan telapak kaki dan tangan sensitif jalan jinjit, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan binatang berbulu. Pada beberapa anak, merasa tidak nyaman bila memakai kaos yang ada label atau merek kaos di punggung atas sehingga sering minta dilepas atau sering dipegang.
Rasa perabaan sensoris kaki sangat sensitif bila lantai kotor sedikit atau berpasir sering geli dan harus pakai sandal, biasanya bila berjalan tidak menapak baik sehingga sering jalan tidak sempurna jalan jinjit, miring, kaki O atau X, sandal atau sepatu seringkali ausnya tidak rata atau tidak seimbang kiri kanan.
Gangguan sensorik memiliki banyak penyebab dan digabungkan dalam banyak diagnosa medis lainnya. Pada penderita Autisme, ADHD, dan Delay Pervasive Developmental gangguan sensorik memainkan peran penting. Identifikasi dini sering menyebabkan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat untuk individu yang bersangkutan.
Gangguan sensorik dapat mempengaruhi satu, beberapa, atau semua indera fisik. Ada 7 kategori yang meliputi fungsi sensorik kita. Kelompok-kelompok ini adalah: taktil (sentuhan), auditori (pendengaran), visual (penglihatan), rasa, pencium (bau), vestibular (gerakan dan gravitasi), dan proprioseptif (kesadaran tubuh, otot, dan sendi). Kebanyakan orang mengalami gangguan sensorik baik hipersensitif (lebih dirangsang) atau sensitif hipo (di bawah dirangsang). Bila salah satu rasa mengalami gangguan maka dapat mempengaruhi beberapa fungsi tubuh lainnya. Jika satu atau lebih indera terganggu, pesan sensorik yang dikirim ke otak tidak benar. Pesan-pesan ini menjadi kacau, menyebabkan individu menderita untuk memahami lingkungan mereka dengan cara yang berbeda. Realitas disalahtafsirkan, menyebabkan penilaian yang salah.
Tanda dan gerjala 3 gangguan sensoris
- Perabaan : Menghindari sentuhan, nyeri toleransi yang tinggi, koordinasi yang buruk, membersihkan tangan atau bagian tubuh lainnya sering, tidak suka dandan (menyikat gigi atau rambut, dll), menempatkan tangan atau jari di mulut sering, terus bergerak , berjalan berat atau pada jari kaki, menghindari tekstur tertentu dalam makanan, pakaian, atau bahan lainnya, dan pakaian tidak suka memakai, tag pakaian, kaus kaki, atau sepatu. Jalan jinjit atau sering membersihkan kaki dari kotoran atau saat berjalan di tanah sering harus memakai sandal.
- Auditori : Sangat sensitif terhadap suara dengan frekuensi tertentu seperti suara gergaji listrik, suara blender, suara bayi menangis atau suara melengking lainnya. Penderita juga sangat sensitif dan sanagat bereaksi terhadap suara keras, mudah marah atau tampaknya mengabaikan orang lain, sering menutup telinga, berulang bersenandung atau menyanyi untuk diri, menghindar kelompok besar orang, mendengarkan TV, radio, dll, pada volume tidak wajar tinggi, terganggu oleh keributan lingkungan, hambatan berbicara, merobek atau kertas berkerut atau barang-barang seperti lainnya, dan ingin mengabaikan suara orang lain.
- Visual : Mudah silau atau tidak nyaman dengan sinar matahari atau lampu yang terang. Ditandai dengan gangguan pandangan, Saar memandang mainan, buku, dll haris didekatkan ke wajah, posisi objek dalam baris, membuka dan menutup berulang pintu atau laci, terus balik lampu dan mematikan, terpesona oleh benda mengkilat atau reflektif (cermin, kaca, dll), gosok sering atau menyipitkan mata dari mata, gelisah dengan gerakan terdekat di lingkungan, keengganan atau berolahraga hati-hati kadung saat berpindah antara berbagai jenis penutup lantai, dan tampaknya terlalu sensitif terhadap cahaya.
Gangguan Sensoris biasanya disertai gangguan lain seperti:
- Susunan safar pusat : sakit kepala, migren, TICS (gerakan mata sering berkedip), kejang nonspesifik (kejang tanpa demam dan EEG normal).
- Gerakan motorik berlebihan pada bayi : Mata sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Pada Anak lebih besar : Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”). ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
- Gangguan tidur : Pada bayi : malam sering terbangun sering dikira haus atau sering dikira ASI ibu kurang sehingga minum ASI berlebihan, akibatnya BB anak naik berlebihan karena terlalu banyak minum. Pada anak dan dewasa : sulit untuk memulai tidur malam atau tidur larut malam, tidur bolak-balik dari ujung ke ujung tempat tidur, berbicara ,tertawa, berteriak atau berjalan saat tidur, mendadak terbangun duduk saat tidur kemudian tidur lagi, mimpi buruk, “beradu gigi” atau gigi gemeretak atau bruxism.
- Agresif meningkat pada bayi : sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (seperti “gemes”). Pada anak lebih besar : mudah memukul, menggigit, mencubit. Pada dewasa : mudah memukul atau menampar orang lain, berlaku kasar terhadap anak , istri atau suami.
- Gangguan konsentrasi : cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antre, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS. Pada dewasa : mudah lupa (short memory lost), sering lupa meletakkan kunci, lupa nama teman tetapi memori lama kuat.
- Emosi tinggi : mudah marah, sering berteriak, mengamuk, tantrum, keras kepala, negatifisme dan mudah menyangkal (deny) sangat tinggi.
- Depresi dan mudah cemas : mudah marah, sedih berlebihan, mudah tersinggung, sering kesepian, mudah menangis meski masalahnya ringan
- Gangguan keseimbangan koordinasi dan motorik : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak,
- Gangguan oral motor : terlambat bicara, bicara terburu-buru, cadel, gagap. Gangguan mengunyah menelan: , seringkali pilih bila makan hanya suka makan krispi, kerupuk atau yang renyah (sayur hanya wortel, brokoli, kentang, bayam). Tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur tertentu, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi. pada dewasa seringkali makan sangat cepat tanpa dikunyah.
- Impulsif : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain, bila bicara sangat cepat banyak dan sulit berhenti. Menangis dan tertawa berubah bergantian dengan cepat.
Cermati tanda dan gejala gangguan saluran cerna pada penderita alergi yang menyertai penderita gangguan sensoris
Pada penderita gangguan sensoris sering disertai gangguan hipersensitif saluran cerna atau alergi saluran cerna. Gangguan saluran cerna sebagai sindrom atau kesatuan gangguan alergi asma, rinitis, dermatitis dan gangguan alergi lainnya.
Penderita alergi biasanya tidak hanya mengalami satu gejala saja, misalnya asma, hidung, dermatitis (alergi kulit) atau hanya saluran cerna. Penderita alergi biasanya terganggu beberapa organ tubuhnya khususnya saluran cernanya secara bersamaan meski dalam bentuk ringan. Tetapi sayang dalam praktek sehari-hari untuk menilai gangguan alergi sebagian dokter seringkali hanya memandang satu keluhan saja dalam penanganan sebuah penyakit. Misalnya dokter kulit hanya melihat gangguan dermatitis padahal saluran cernanya bermasalah juga karena alergi.
Sedangkan dokter ahli pernapasan atau paru hanya memandang asma sebagai masalah utama, padahal penderita asma juga sering mengalami gangguan saluran cerna seperti gastrooesephageal refluks, mual atau nyeri perut. Demikian juga ahli THT hanya melihat gangguan sinusitis yang dipicu alergi, tetapi tidak melihat keluhan sensitif saluran cerna. Sebaliknya, dokter ahli saluran cerna hanya melihat keluhan saluran cerna tersendiri padahal keluhan asma, rinitis dan dermatitis yang menyertai adalah termasuk kesatuan dalam gangguan penyakit itu.
Alergi makanan harus dicurigai sebagai penyebab gangguan manifestasi alergi selama ini bila terdapat gangguan saluran cerna. Tetapi sayangnya gangguan saluran cerna tersebut sangat ringan dan dianggap biasa sehingga lepas dari pengamatan penderita ataupun bahkan seorang dokter ahli. Bila hal ini terjadi maka seringkali terjadi kesalahan dalam mengidentifikasi penyebab alergi. Sehingga sering overdiagnosis, bahwa penyebab alergi adalah debu dan udara dingin, padahal alergi makanan sangat mungkin berperanan penting.
Gangguan saluran cerna yang terjadi adalah :
- Pada Bayi : bayi mengalami gastrooesepageal refluks, sering muntah/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis atau hidrokel. Air liur berlebihan. Lidah atau mulut sering timbul putih, bibir kering dan kadang kehitaman sebagian
- Pada Anak dan Dewasa : Pada usia anak keluhan muntah semakin berkurang tetapi masih sering mengalami mudah muntah bila menangis, berlari atau makan banyak atau bila naik kendaran bermotor, pesawat atau kapal. Sering mengalami mual terutama pagi hari bila hendak gosok gigi atau sedang disuap makanan.Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering glegekan, sering kembung, sering buang angin dan buang angin bau tajam. Sering nyeri perut. Pada penderita dewasa sering megalami gejala penyakit “maag”, dyspepsia atau Iritable Bowel Syndrome.
Penanganan
- Anak-anak yang berjalan jinjit kemungkinan besar mengalami masalah sensorik. Sehingga bisa dilakukan terapi sensoris meski terjadi pada anak normal.
- Intervensi dini merupakan kunci, baik untuk yang memang dicurigai autisme atau memang berjalan jinjit karena gangguan sensorik.
- Kebanyakan kondisi ini akan membaik sendiri selama masa kecil.
- Pengobatan penderita gangguan sensoris dengan disertai jalan jinjit jarang diperlukan untuk anak-anak yang berusia 6 tahun ke bawah. Penderita jalan jinjit disertai pemendekan tendon Achilles atau otot betis. Mungkin diperlukan operasi.
- Bila gangguaj sensoris disertai gangguan alergi saluran cerna sebaiknya dikonsultasikan pada dokter alergi atau ahli l;ainnya. Ternyata saat dilakukan pengendalian alergi gangguan sensoris yang tiimbil bisa berkurang.
Terapi Sensoris- Tidur telentang dan diam (tidak bergerak). Terapi ini bertujuan agar si kecil mampu merasakan (aware) keberadaan dirinya.
- Usapan meyeluruh dari kepala, bahu, tangan, pinggang, paha, kaki, telapak kaki bertujuan untuk menenangkan,relaksasi otot-otot yang tegang.
- Usapan di bagian kepala, termasuk amat, hidung, mulut, telinga. Bertujuan untuk relaksasi mengurangi sensitivitas pancaindra, dan meningkatkan awareness terhadap organ indra.
- Usapan berbentuk angka 8 di pinggang ke paha, juga dari dada ke lengan. Berfungsi sebagai brain gym pasif, salah satu bentuk stimulasi untuk melatih koordinasi gerak tubuh.
- Usapan di Tendon Guard (lipatan bahu, bawah rusuk, atas tulang panggul). Bertujuan untuk relaksasi tendon sekaligus mengencangkan otot-otot yang lembek.
- Usapan di kaki. Bertujuan untuk melatih reflex babinski. Bagi yang refleksnya terlalu besar, dikurangi. Biasanya, ini dilakukan pada anak yang berjalan jinjit.
- Tidur miring, diusap sepanjang sisi abdomen. Bertujuan untuk mengenalkan reflex gallant (keseimbangan kanan dan kiri). Saat masa sekolah, ini bisa mengurangi resiko kesulitan belajar.
- Usapan di bahu (mobilisasi bahu) bertujuan agar pada anak-anak kebutuhan khusus, biasanya, bahunya selalu naik karena tegang (sikap defensif). Usapan berguna untuk merilekskan dan mengurangi sensitivitas bahu.
Mengatasi Kejang Pada Bayi Dan Balita
Kejang, baik yang disertai demam atau tidak, bisa
berdampak fatal. Itulah sebabnya, setelah memberi pertolongan pertama,
bawa segera si kecil ke rumah sakit.
Kejang sendiri terjadi akibat adanya kontraksi otot yang berlebihan dalam waktu tertentu tanpa bisa dikendalikan. Salah satu penyebab terjadinya kejang demam yaitu tingginya suhu badan anak. Timbulnya kejang yang disertai demam ini diistilahkan sebagai kejang demam (convalsio febrillis) atau stuip/step.
Masalahnya, toleransi masing-masing anak terhadap demam sangatlah bervariasi. Pada anak yang toleransinya rendah, maka demam pada suhu tubuh 38 C pun sudah bisa membuatnya kejang. Sementara pada anak-anak yang toleransinya normal, kejang baru dialami jika suhu badan sudah mencapai 39 C atau lebih.
SEGERA BAWA KE DOKTER
Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, disarankan agar orang tua sesegera mungkin memberi pertolongan pertama begitu tahu si kecil mengalami kejang demam.
Setelah itu,jangan tunggu waktu lagi bawa segera si kecil ke dokter atau klinik terdekat. Jangan terpaku hanya pada lamanya kejang, entah cuma beberapa detik atau sekian menit. Dengan begitu, si kecil akan mendapat penanganan lebih lanjut yang tepat dari para ahli. Biasanya dokter juga akan memberikan obat penurun panas, sekaligus membekali obat untuk mengatasi kejang dan antikejang. “Sebagai pertolongan pertama, tak usah membawanya langsung ke rumah sakit lengkap yang letaknya relatif lebih jauh karena bisa-bisa si kecil mendapat risiko yang lebih berbahaya akibat lambat mendapat pertolongan pertama.”
Selain itu, jika kejang demam tidak segera mendapat penanganan semestinya, si kecil pun terancam bakal terkena retardasi mental. Pasalnya, kejang demam bisa menyebabkan rusaknya sel-sel otak anak. Jadi, kalau kejang itu berlangsung dalam jangka waktu yang lama, maka kemungkinan sel-sel yang rusak pun akan semakin banyak. Bukan tidak mungkin tingkat kecerdasan anak akan menurun drastis dan tidak bisa lagi berkembang secara optimal.
Bahkan beberapa kasus kejang demam bisa menyebabkan epilepsi pada anak. Yang tak kalah penting, begitu anaknya terkena kejang demam, orang tua pun mesti ekstra hati-hati. Soalnya, dalam setahun pertama setelah kejadian, kejang serupa atau malah yang lebih hebat berpeluang terulang kembali.
Untuk mengantisipasinya, sediakanlah obat penurun panas dan obat antikejang yang telah diresep-kan dokter anak. Meski begitu, orang tua jangan kelewat khawatir. Karena dengan penanganan yang tepat dan segera, kejang demam yang berlangsung beberapa saat umumnya tak menimbulkan gangguan fungsi otak.
CIRI-CIRI KEJANG
Tentu saja dalam hal ini orang tua harus bisa membaca ciri-ciri seorang anak yang terkena kejang demam. Di antaranya:
Berikut beberapa penjelasan tentang kejang dan demam pada anak: . Suhu tubuh normal anak berkisar antara 36-37 C. Si kecil dinyatakan demam bila temperatur tubuhnya yang diukur melalui mulut/telinga menunjukkan angka 37,8 C; melalui rektum 38 C, dan 37,2 C melalui ketiak.Sebelum semakin tinggi, segera beri obat penurun panas. .
Orang tua jangan begitu gampang mengatakan seorang anak demam atau tidak hanya dengan menempelkan punggung tangannya di dahi anak. Cara ini jelas tidak akurat karena amat dipengaruhi oleh kepekaan dan suhu badan orang tua sendiri.
Termometer air raksa diyakini merupakan cara yang paling tepat untuk mengukur suhu tubuh. Pengukuran suhu tubuh akan lebih akurat bila termometer tersebut ditempatkan di rongga mulut atau rektum/anus dibanding ketiak.
Saat menghadapi si kecil yang sedang kejang demam, sedapat mungkin cobalah bersikap tenang. Sikap panik hanya akan membuat kita tak tahu harus berbuat apa yang mungkin saja akan membuat penderitaan anak tambah parah.
Jangan gunakan alkohol atau air dingin untuk menurunkan suhu tubuh anak yang sedang demam. Penggunaan alkohol amat berpeluang menyebabkan iritasi pada mata dan intoksikasi/keracunan.
Lebih aman gunakan kompres air biasa yang diletakkan di dahi, ketiak, dan lipatan paha. Kompres ini bertujuan menurunkan suhu di permukaan tubuh. Turunnya suhu ini diharapkan terjadi karena panas tubuh digunakan untuk menguapkan air pada kain kompres. Penurunan suhu yang drastis justru tidak disarankan.
Jangan coba-coba memberikan aspirin atau jenis obat lainnya yang mengandung salisilat karena diduga dapat memicu sindroma Reye, sejenis penyakit yang tergolong langka dan mempengaruhi kerja lever, darah, dan otak.
Setelah anak benar-benar sadar, bujuklah ia untuk banyak minum dan makan makanan berkuah atau buah-buahan yang banyak mengandung air. Bisa berupa jus, susu, teh, dan minuman lainnya. Dengan demikian, cairan tubuh yang menguap akibat suhu tinggi bisa cepat tergantikan.
Jangan selimuti si kecil dengan selimut tebal. Selimut dan pakaian tebal dan tertutup justru akan meningkatkan suhu tubuh dan menghalangi penguapan. Pakaian ketat atau yang mengikat terlalu kencang sebaiknya ditanggalkan saja.
YANG BISA DILAKUKAN ORANG TUA
*Segera beri obat penurun panas begitu suhu tubuh anak melewati angka 37,5 C.
Penyebabnya bermacam-macam. Yang penting, jangan sampai berulang dan berlangsung lama karena dapat merusak sel-sel otak. Menurut dr. Merry C. Siboro, Sp.A, dari RS Metro Medical Centre, Jakarta, kejang adalah kontraksi otot yang berlebihan di luar kehendak.
“Kejang-kejang kemungkinan bisa terjadi bila suhu badan bayi atau anak terlalu tinggi atau bisa juga tanpa disertai demam.”
Kejang yang disertai demam disebut kejang demam (convalsio febrilis). Biasanya disebabkan adanya suatu penyakit dalam tubuh si kecil. Misal, demam tinggi akibat infeksi saluran pernapasan, radang telinga, infeksi saluran cerna, dan infeksi saluran kemih. Sedangkan kejang tanpa demam adalah kejang yang tak disertai demam. Juga banyak terjadi pada anak-anak.
BISA DIALAMI SEMUA ANAK
Kondisi kejang umum tampak dari badan yang menjadi kaku dan bola mata berbalik ke atas. Kondisi ini biasa disebut step atau kejang toniklonik (kejet-kejet). Kejang tanpa demam bisa dialami semua anak balita. Bahkan juga bayi baru lahir.
Umumnya karena ada kelainan bawaan yang mengganggu fungsi otak sehingga dapat menyebabkan timbulnya bangkitan kejang. Bisa juga akibat trauma lahir, adanya infeksi-infeksi pada saat-saat terakhir lahir, proses kelahiran yang susah sehingga sebagian oksigen tak masuk ke otak, atau menderita kepala besar atau kecil.
Bayi yang lahir dengan berat di atas 4.000 gram bisa juga berisiko mengalami kejang tanpa demam pada saat melalui masa neonatusnya (28 hari sesudah dilahirkan).
“Ini biasanya disebabkan adanya riwayat ibu menderita diabetes, sehingga anaknya mengalami hipoglemi (ganggguan gula dalam darah). Dengan demikian, enggak demam pun, dia bisa kejang.”
Selanjutnya, si bayi dengan gangguan hipoglemik akibat kencing manis ini akan rentan terhadap kejang. “Contohnya, telat diberi minum saja, dia langsung kejang.” Uniknya, bayi prematur justru jarang sekali menderita kejang. “Penderitanya lebih banyak bayi yang cukup bulan. Diduga karena sistem sarafnya sudah sempurna sehingga lebih rentan dibandingkan bayi prematur yang memang belum sempurna.”
JANGAN SAMPAI TERULANG
Penting diperhatikan, bila anak pernah kejang, ada kemungkinan dia bisa kejang lagi. Padahal, kejang tak boleh dibiarkan berulang selain juga tak boleh berlangsung lama atau lebih dari 5 menit. Bila terjadi dapat membahayakan anak.
Masalahnya, setiap kali kejang anak mengalami asfiksi atau kekurangan oksigen dalam darah. “Setiap menit, kejang bisa mengakibatkan kerusakan sel-sel pada otak, karena terhambatnya aliran oksigen ke otak.
Bayangkan apa yang terjadi bila anak bolak-balik kejang, berapa ribu sel yang bakal rusak? Tak adanya aliran oksigen ke otak ini bisa menyebakan sebagian sel-sel otak mengalami kerusakan.
”Kerusakan di otak ini dapat menyebabkan epilepsi, kelumpuhan, bahkan retardasi mental. Oleh karenanya, pada anak yang pernah kejang atau berbakat kejang, hendaknya orang tua terus memantau agar jangan terjadi kejang berulang.
DIMONITOR TIGA TAHUN
Risiko berulangnya kejang pada anak-anak, umumnya tergantung pada jenis kejang serta ada atau tidaknya kelainan neurologis berdasarkan hasil EEG (elektroensefalografi). Di antara bayi yang mengalami kejang neonatal (tanpa demam), akan terjadi bangkitan tanpa demam dalam 7 tahun pertama pada 25% kasus. Tujuh puluh lima persen di antara bayi yang mengalami bangkitan kejang tersebut akan menjadi epilepsi.
Harus diusahakan, dalam tiga tahun sesudah kejang pertama, jangan ada kejang berikut.
Dokter akan mengawasi selama tiga tahun sesudahnya, setelah kejang pertama datang. Bila dalam tiga tahun itu tak ada kejang lagi, meski cuma dalam beberapa detik, maka untuk selanjutnya anak tersebut mempunyai prognosis baik.Artinya, tak terjadi kelainan neurologis dan mental.
Tapi, bagaimana jika setelah diobati, ternyata di tahun kedua terjadi kejang lagi? “Hitungannya harus dimulai lagi dari tahun pertama.”Pokoknya, jangka waktu yang dianggap aman untuk monitoring adalah selama tiga tahun setelah kejang.
Jadi, selama tiga tahun setelah kejang pertama itu, si anak harus bebas kejang. Anak-anak yang bebas kejang selama tiga tahun itu dan sesudahnya, umumnya akan baik dan sembuh. Kecuali pada anak-anak yang memang sejak lahir sudah memiliki kelainan bawaan, semisal kepala kecil (mikrosefali) atau kepala besar (makrosefali), serta jika ada tumor di otak.
RAGAM PENYEBAB
“Kejang tanpa demam bisa berasal dari kelainan di otak, bukan berasal dari otak, atau faktor keturunan,” penjabarannya satu per satu di bawah ini.
* Kelainan neurologis Setiap penyakit atau kelainan yang mengganggu fungsi otak bisa menimbulkan bangkitan kejang.
Contoh, akibat trauma lahir, trauma kepala, tumor otak, radang otak, perdarahan di otak, atau kekurangan oksigen dalam jaringan otak (hipoksia).
* Bukan neurologis Bisa disebabkan gangguan elektrolit darah akibat muntah dan diare, gula darah rendah akibat sakit yang lama, kurang asupan makanan, kejang lama yang disebabkan epilepsi, gangguan metabolisme, gangguan peredaran darah, keracunan obat/zat kimia, alergi dan cacat bawaan.
* Faktor keturunan Kejang akibat penyakit lain seperti epilepsi biasanya berasal dari keluarga yang memiliki riwayat kejang demam sama. Orang tua yang pernah mengalami kejang sewaktu kecil sebaiknya waspada karena anaknya berisiko tinggi mengalami kejang yang sama.
WASPADAI DI BAWAH 6 BULAN
Orang tua harus waspada bila anak sering kejang tanpa demam, terutama di bawah usia 6 bulan, Karena kemungkinannya untuk menderita epilepsi besar.
Masalahnya, kejang pada anak di bawah 6 bulan, terutama pada masa neonatal itu bersifat khas. “Bukan hanya seperti toniklonik yang selama ini kita kenal, tapi juga dalam bentuk gerakan-gerakan lain. Misal, matanya juling ke atas lalu bergerak-gerak, bibirnya kedutan atau tangannya seperti tremor.
Dokter biasanya waspada, tapi kalau kejangnya terjadi di rumah, biasanya jarang ibu yang ngeh.” Itulah sebabnya, orang tua harus memperhatikan betul kondisi bayinya.
MENOLONG ANAK KEJANG
1. Jangan panik, segera longgarkan pakaiannya dan lepas atau buang semua yang menghambat saluran pernapasannya. Jadi kalau sedang makan tiba-tiba anak kejang, atau ada sesuatu di mulutnya saat kejang, segera keluarkan.
2. Miringkan tubuh anak karena umumnya anak yang sedang kejang mengeluarkan cairan-cairan dari mulutnya. “Ini sebetulnya air liur yang banyak jumlahnya karena saraf yang mengatur kelenjar air liur tak terkontrol lagi. Kalau sedang kejang, kan, saraf pusatnya terganggu. Bukan cuma air liur, air mata pun bisa keluar.” Guna memiringkan tubuh adalah supaya cairan-cairan ini langsung keluar, tidak menetap di mulut yang malah berisiko menyumbat saluran napas dan memperparah keadaan.
3. Jangan mudah percaya bahwa meminumkan kopi pada anak yang sedang kejang bisa langsung menghentikan kejang tersebut. “Secara medis, kopi tak berguna untuk mengatasi kejang. Kopi justru dapat menyebabkan tersumbatnya pernapasan bila diberikan saat anak mengalami kejang, yang malah bisa menyebabkan kematian.”
4. Segera bawa anak ke rumah sakit terdekat, jangan sampai otak kelamaan tak mendapat oksigen. “Usahakan lama kejang tak lebih dari tiga menit. Siapkan obat antikejang yang disarankan dokter bila anak memang pernah kejang atau punya riwayat kejang.”
PENATALAKSANAAN
Penatalaksaan kejang meliputi :
1. Penanganan saat kejang
* Menghentikan kejang : Diazepam dosis awal 0,3 – 0,5 mg/kgBB/dosis IV (Suntikan Intra Vena) (perlahan-lahan) atau 0,4-0,6mg/KgBB/dosis REKTAL SUPPOSITORIA. Bila kejang belum dapat teratasi dapat diulang dengan dosis yang sama 20 menit kemudian.
* Turunkan demam :
Anti Piretika : Paracetamol 10 mg/KgBB/dosis PO (Per Oral / lewat mulut) diberikan 3-4 kali sehari.
Kompres ; suhu >39º C dengan air hangat, suhu > 38º C dengan air biasa.
* Pengobatan penyebab : antibiotika diberikan sesuai indikasi dengan penyakit dasarnya.
* Penanganan sportif lainnya meliputi : bebaskan jalan nafas, pemberian oksigen, memberikan keseimbangan air dan elektrolit, pertimbangkan keseimbangan tekanan darah.
2. Pencegahan Kejang
* Pencegahan berkala (intermiten) untuk kejang demam sederhana dengan Diazepam 0,3 mg/KgBB/dosis PO (Per Oral / lewat mulut) dan anti piretika pada saat anak menderita penyakit yang disertai demam.
* Pencegahan kontinu untuk kejang demam komplikata dengan Asam vaproat 15-40 mg/KgBB/dosis PO (per oral / lewat mulut) dibagi dalam 2-3 dosis.
ANAK EPILEPSI HARUS KONTROL SETIAP 3 BULAN
Mereka yang berisiko menderita epilepsi adalah anak-anak yang lahir dari keluarga yang mempunyai riwayat epilepsi. Selain juga anak-anak dengan kelainan neurologis sebelum kejang pertama datang, baik dengan atau tanpa demam.
Anak yang sering kejang memang berpotensi menderita epilepsi. Tapi jangan khawatir, anak yang menderita epilepsi, kecuali yang lahir dengan kelainan atau gangguan pertumbuhan, bisa tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya. Prestasi belajar mereka tidak kalah dengan anak yang normal.
Jadi, kita tak perlu mengucilkan anak epilepsi karena dia bisa berkembang normal seperti anak-anak lainnya. “Yang penting, ia tertangani dengan baik. Biasanya kalau anak itu sering kejang, dokter akan memberi obat yang bisa menjaganya supaya jangan sampai kejang lagi.
Pada anak epilepsi, fokus perawatannya adalah jangan sampai terjadi kejang lagi. Untuk itu, perlu kontrol, paling tidak setiap 3 bulan agar monitoring dari dokter berjalan terus.”
Kejang sendiri terjadi akibat adanya kontraksi otot yang berlebihan dalam waktu tertentu tanpa bisa dikendalikan. Salah satu penyebab terjadinya kejang demam yaitu tingginya suhu badan anak. Timbulnya kejang yang disertai demam ini diistilahkan sebagai kejang demam (convalsio febrillis) atau stuip/step.
Masalahnya, toleransi masing-masing anak terhadap demam sangatlah bervariasi. Pada anak yang toleransinya rendah, maka demam pada suhu tubuh 38 C pun sudah bisa membuatnya kejang. Sementara pada anak-anak yang toleransinya normal, kejang baru dialami jika suhu badan sudah mencapai 39 C atau lebih.
SEGERA BAWA KE DOKTER
Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, disarankan agar orang tua sesegera mungkin memberi pertolongan pertama begitu tahu si kecil mengalami kejang demam.
Setelah itu,jangan tunggu waktu lagi bawa segera si kecil ke dokter atau klinik terdekat. Jangan terpaku hanya pada lamanya kejang, entah cuma beberapa detik atau sekian menit. Dengan begitu, si kecil akan mendapat penanganan lebih lanjut yang tepat dari para ahli. Biasanya dokter juga akan memberikan obat penurun panas, sekaligus membekali obat untuk mengatasi kejang dan antikejang. “Sebagai pertolongan pertama, tak usah membawanya langsung ke rumah sakit lengkap yang letaknya relatif lebih jauh karena bisa-bisa si kecil mendapat risiko yang lebih berbahaya akibat lambat mendapat pertolongan pertama.”
Selain itu, jika kejang demam tidak segera mendapat penanganan semestinya, si kecil pun terancam bakal terkena retardasi mental. Pasalnya, kejang demam bisa menyebabkan rusaknya sel-sel otak anak. Jadi, kalau kejang itu berlangsung dalam jangka waktu yang lama, maka kemungkinan sel-sel yang rusak pun akan semakin banyak. Bukan tidak mungkin tingkat kecerdasan anak akan menurun drastis dan tidak bisa lagi berkembang secara optimal.
Bahkan beberapa kasus kejang demam bisa menyebabkan epilepsi pada anak. Yang tak kalah penting, begitu anaknya terkena kejang demam, orang tua pun mesti ekstra hati-hati. Soalnya, dalam setahun pertama setelah kejadian, kejang serupa atau malah yang lebih hebat berpeluang terulang kembali.
Untuk mengantisipasinya, sediakanlah obat penurun panas dan obat antikejang yang telah diresep-kan dokter anak. Meski begitu, orang tua jangan kelewat khawatir. Karena dengan penanganan yang tepat dan segera, kejang demam yang berlangsung beberapa saat umumnya tak menimbulkan gangguan fungsi otak.
CIRI-CIRI KEJANG
Tentu saja dalam hal ini orang tua harus bisa membaca ciri-ciri seorang anak yang terkena kejang demam. Di antaranya:
* kedua kaki dan tangan kaku
disertai gerakan-gerakan kejut yang kuat dan kejang-kejang selama 5
menit . bola mata berbalik ke atas
* gigi terkatup
* muntah
* tak jarang si anak berhenti napas sejenak.
* pada beberapa kasus tidak bisa mengontrol pengeluaran buang air besar/kecil.
* pada kasus berat, si kecil kerap
tak sadarkan diri. Adapun intensitas waktu kejang juga sangat
bervariasi, dari beberapa detik sampai puluhan menit.
TIPS ATASI KEJANG DEMAMBerikut beberapa penjelasan tentang kejang dan demam pada anak: . Suhu tubuh normal anak berkisar antara 36-37 C. Si kecil dinyatakan demam bila temperatur tubuhnya yang diukur melalui mulut/telinga menunjukkan angka 37,8 C; melalui rektum 38 C, dan 37,2 C melalui ketiak.Sebelum semakin tinggi, segera beri obat penurun panas. .
Orang tua jangan begitu gampang mengatakan seorang anak demam atau tidak hanya dengan menempelkan punggung tangannya di dahi anak. Cara ini jelas tidak akurat karena amat dipengaruhi oleh kepekaan dan suhu badan orang tua sendiri.
Termometer air raksa diyakini merupakan cara yang paling tepat untuk mengukur suhu tubuh. Pengukuran suhu tubuh akan lebih akurat bila termometer tersebut ditempatkan di rongga mulut atau rektum/anus dibanding ketiak.
Saat menghadapi si kecil yang sedang kejang demam, sedapat mungkin cobalah bersikap tenang. Sikap panik hanya akan membuat kita tak tahu harus berbuat apa yang mungkin saja akan membuat penderitaan anak tambah parah.
Jangan gunakan alkohol atau air dingin untuk menurunkan suhu tubuh anak yang sedang demam. Penggunaan alkohol amat berpeluang menyebabkan iritasi pada mata dan intoksikasi/keracunan.
Lebih aman gunakan kompres air biasa yang diletakkan di dahi, ketiak, dan lipatan paha. Kompres ini bertujuan menurunkan suhu di permukaan tubuh. Turunnya suhu ini diharapkan terjadi karena panas tubuh digunakan untuk menguapkan air pada kain kompres. Penurunan suhu yang drastis justru tidak disarankan.
Jangan coba-coba memberikan aspirin atau jenis obat lainnya yang mengandung salisilat karena diduga dapat memicu sindroma Reye, sejenis penyakit yang tergolong langka dan mempengaruhi kerja lever, darah, dan otak.
Setelah anak benar-benar sadar, bujuklah ia untuk banyak minum dan makan makanan berkuah atau buah-buahan yang banyak mengandung air. Bisa berupa jus, susu, teh, dan minuman lainnya. Dengan demikian, cairan tubuh yang menguap akibat suhu tinggi bisa cepat tergantikan.
Jangan selimuti si kecil dengan selimut tebal. Selimut dan pakaian tebal dan tertutup justru akan meningkatkan suhu tubuh dan menghalangi penguapan. Pakaian ketat atau yang mengikat terlalu kencang sebaiknya ditanggalkan saja.
YANG BISA DILAKUKAN ORANG TUA
*Segera beri obat penurun panas begitu suhu tubuh anak melewati angka 37,5 C.
* Kompres dengan lap hangat (yang
suhunya kurang lebih sama dengan suhu badan si kecil). Jangan kompres
dengan air dingin, karena dapat menyebabkan “korsleting”/benturan kuat
di otak antara suhu panas tubuh si kecil dengan kompres dingin tadi.
* Agar si kecil tidak cedera,
pindahkan benda-benda keras atau tajam yang berada dekat anak. . Tak
perlu menahan mulut si kecil agar tetap terbuka dengan
mengganjal/menggigitkan sesuatu di antara giginya. . Miringkan posisi
tubuh si kecil agar penderita tidak menelan cairan muntahnya sendiri
yang bisa mengganggu pernapasannya.
* Jangan memberi minuman/makanan segera setelah berhenti kejang karena hanya akan berpeluang membuat anak tersedak.
KEJANG TANPA DEMAMPenyebabnya bermacam-macam. Yang penting, jangan sampai berulang dan berlangsung lama karena dapat merusak sel-sel otak. Menurut dr. Merry C. Siboro, Sp.A, dari RS Metro Medical Centre, Jakarta, kejang adalah kontraksi otot yang berlebihan di luar kehendak.
“Kejang-kejang kemungkinan bisa terjadi bila suhu badan bayi atau anak terlalu tinggi atau bisa juga tanpa disertai demam.”
Kejang yang disertai demam disebut kejang demam (convalsio febrilis). Biasanya disebabkan adanya suatu penyakit dalam tubuh si kecil. Misal, demam tinggi akibat infeksi saluran pernapasan, radang telinga, infeksi saluran cerna, dan infeksi saluran kemih. Sedangkan kejang tanpa demam adalah kejang yang tak disertai demam. Juga banyak terjadi pada anak-anak.
BISA DIALAMI SEMUA ANAK
Kondisi kejang umum tampak dari badan yang menjadi kaku dan bola mata berbalik ke atas. Kondisi ini biasa disebut step atau kejang toniklonik (kejet-kejet). Kejang tanpa demam bisa dialami semua anak balita. Bahkan juga bayi baru lahir.
Umumnya karena ada kelainan bawaan yang mengganggu fungsi otak sehingga dapat menyebabkan timbulnya bangkitan kejang. Bisa juga akibat trauma lahir, adanya infeksi-infeksi pada saat-saat terakhir lahir, proses kelahiran yang susah sehingga sebagian oksigen tak masuk ke otak, atau menderita kepala besar atau kecil.
Bayi yang lahir dengan berat di atas 4.000 gram bisa juga berisiko mengalami kejang tanpa demam pada saat melalui masa neonatusnya (28 hari sesudah dilahirkan).
“Ini biasanya disebabkan adanya riwayat ibu menderita diabetes, sehingga anaknya mengalami hipoglemi (ganggguan gula dalam darah). Dengan demikian, enggak demam pun, dia bisa kejang.”
Selanjutnya, si bayi dengan gangguan hipoglemik akibat kencing manis ini akan rentan terhadap kejang. “Contohnya, telat diberi minum saja, dia langsung kejang.” Uniknya, bayi prematur justru jarang sekali menderita kejang. “Penderitanya lebih banyak bayi yang cukup bulan. Diduga karena sistem sarafnya sudah sempurna sehingga lebih rentan dibandingkan bayi prematur yang memang belum sempurna.”
JANGAN SAMPAI TERULANG
Penting diperhatikan, bila anak pernah kejang, ada kemungkinan dia bisa kejang lagi. Padahal, kejang tak boleh dibiarkan berulang selain juga tak boleh berlangsung lama atau lebih dari 5 menit. Bila terjadi dapat membahayakan anak.
Masalahnya, setiap kali kejang anak mengalami asfiksi atau kekurangan oksigen dalam darah. “Setiap menit, kejang bisa mengakibatkan kerusakan sel-sel pada otak, karena terhambatnya aliran oksigen ke otak.
Bayangkan apa yang terjadi bila anak bolak-balik kejang, berapa ribu sel yang bakal rusak? Tak adanya aliran oksigen ke otak ini bisa menyebakan sebagian sel-sel otak mengalami kerusakan.
”Kerusakan di otak ini dapat menyebabkan epilepsi, kelumpuhan, bahkan retardasi mental. Oleh karenanya, pada anak yang pernah kejang atau berbakat kejang, hendaknya orang tua terus memantau agar jangan terjadi kejang berulang.
DIMONITOR TIGA TAHUN
Risiko berulangnya kejang pada anak-anak, umumnya tergantung pada jenis kejang serta ada atau tidaknya kelainan neurologis berdasarkan hasil EEG (elektroensefalografi). Di antara bayi yang mengalami kejang neonatal (tanpa demam), akan terjadi bangkitan tanpa demam dalam 7 tahun pertama pada 25% kasus. Tujuh puluh lima persen di antara bayi yang mengalami bangkitan kejang tersebut akan menjadi epilepsi.
Harus diusahakan, dalam tiga tahun sesudah kejang pertama, jangan ada kejang berikut.
Dokter akan mengawasi selama tiga tahun sesudahnya, setelah kejang pertama datang. Bila dalam tiga tahun itu tak ada kejang lagi, meski cuma dalam beberapa detik, maka untuk selanjutnya anak tersebut mempunyai prognosis baik.Artinya, tak terjadi kelainan neurologis dan mental.
Tapi, bagaimana jika setelah diobati, ternyata di tahun kedua terjadi kejang lagi? “Hitungannya harus dimulai lagi dari tahun pertama.”Pokoknya, jangka waktu yang dianggap aman untuk monitoring adalah selama tiga tahun setelah kejang.
Jadi, selama tiga tahun setelah kejang pertama itu, si anak harus bebas kejang. Anak-anak yang bebas kejang selama tiga tahun itu dan sesudahnya, umumnya akan baik dan sembuh. Kecuali pada anak-anak yang memang sejak lahir sudah memiliki kelainan bawaan, semisal kepala kecil (mikrosefali) atau kepala besar (makrosefali), serta jika ada tumor di otak.
RAGAM PENYEBAB
“Kejang tanpa demam bisa berasal dari kelainan di otak, bukan berasal dari otak, atau faktor keturunan,” penjabarannya satu per satu di bawah ini.
* Kelainan neurologis Setiap penyakit atau kelainan yang mengganggu fungsi otak bisa menimbulkan bangkitan kejang.
Contoh, akibat trauma lahir, trauma kepala, tumor otak, radang otak, perdarahan di otak, atau kekurangan oksigen dalam jaringan otak (hipoksia).
* Bukan neurologis Bisa disebabkan gangguan elektrolit darah akibat muntah dan diare, gula darah rendah akibat sakit yang lama, kurang asupan makanan, kejang lama yang disebabkan epilepsi, gangguan metabolisme, gangguan peredaran darah, keracunan obat/zat kimia, alergi dan cacat bawaan.
* Faktor keturunan Kejang akibat penyakit lain seperti epilepsi biasanya berasal dari keluarga yang memiliki riwayat kejang demam sama. Orang tua yang pernah mengalami kejang sewaktu kecil sebaiknya waspada karena anaknya berisiko tinggi mengalami kejang yang sama.
WASPADAI DI BAWAH 6 BULAN
Orang tua harus waspada bila anak sering kejang tanpa demam, terutama di bawah usia 6 bulan, Karena kemungkinannya untuk menderita epilepsi besar.
Masalahnya, kejang pada anak di bawah 6 bulan, terutama pada masa neonatal itu bersifat khas. “Bukan hanya seperti toniklonik yang selama ini kita kenal, tapi juga dalam bentuk gerakan-gerakan lain. Misal, matanya juling ke atas lalu bergerak-gerak, bibirnya kedutan atau tangannya seperti tremor.
Dokter biasanya waspada, tapi kalau kejangnya terjadi di rumah, biasanya jarang ibu yang ngeh.” Itulah sebabnya, orang tua harus memperhatikan betul kondisi bayinya.
MENOLONG ANAK KEJANG
1. Jangan panik, segera longgarkan pakaiannya dan lepas atau buang semua yang menghambat saluran pernapasannya. Jadi kalau sedang makan tiba-tiba anak kejang, atau ada sesuatu di mulutnya saat kejang, segera keluarkan.
2. Miringkan tubuh anak karena umumnya anak yang sedang kejang mengeluarkan cairan-cairan dari mulutnya. “Ini sebetulnya air liur yang banyak jumlahnya karena saraf yang mengatur kelenjar air liur tak terkontrol lagi. Kalau sedang kejang, kan, saraf pusatnya terganggu. Bukan cuma air liur, air mata pun bisa keluar.” Guna memiringkan tubuh adalah supaya cairan-cairan ini langsung keluar, tidak menetap di mulut yang malah berisiko menyumbat saluran napas dan memperparah keadaan.
3. Jangan mudah percaya bahwa meminumkan kopi pada anak yang sedang kejang bisa langsung menghentikan kejang tersebut. “Secara medis, kopi tak berguna untuk mengatasi kejang. Kopi justru dapat menyebabkan tersumbatnya pernapasan bila diberikan saat anak mengalami kejang, yang malah bisa menyebabkan kematian.”
4. Segera bawa anak ke rumah sakit terdekat, jangan sampai otak kelamaan tak mendapat oksigen. “Usahakan lama kejang tak lebih dari tiga menit. Siapkan obat antikejang yang disarankan dokter bila anak memang pernah kejang atau punya riwayat kejang.”
PENATALAKSANAAN
Penatalaksaan kejang meliputi :
1. Penanganan saat kejang
* Menghentikan kejang : Diazepam dosis awal 0,3 – 0,5 mg/kgBB/dosis IV (Suntikan Intra Vena) (perlahan-lahan) atau 0,4-0,6mg/KgBB/dosis REKTAL SUPPOSITORIA. Bila kejang belum dapat teratasi dapat diulang dengan dosis yang sama 20 menit kemudian.
* Turunkan demam :
Anti Piretika : Paracetamol 10 mg/KgBB/dosis PO (Per Oral / lewat mulut) diberikan 3-4 kali sehari.
Kompres ; suhu >39º C dengan air hangat, suhu > 38º C dengan air biasa.
* Pengobatan penyebab : antibiotika diberikan sesuai indikasi dengan penyakit dasarnya.
* Penanganan sportif lainnya meliputi : bebaskan jalan nafas, pemberian oksigen, memberikan keseimbangan air dan elektrolit, pertimbangkan keseimbangan tekanan darah.
2. Pencegahan Kejang
* Pencegahan berkala (intermiten) untuk kejang demam sederhana dengan Diazepam 0,3 mg/KgBB/dosis PO (Per Oral / lewat mulut) dan anti piretika pada saat anak menderita penyakit yang disertai demam.
* Pencegahan kontinu untuk kejang demam komplikata dengan Asam vaproat 15-40 mg/KgBB/dosis PO (per oral / lewat mulut) dibagi dalam 2-3 dosis.
ANAK EPILEPSI HARUS KONTROL SETIAP 3 BULAN
Mereka yang berisiko menderita epilepsi adalah anak-anak yang lahir dari keluarga yang mempunyai riwayat epilepsi. Selain juga anak-anak dengan kelainan neurologis sebelum kejang pertama datang, baik dengan atau tanpa demam.
Anak yang sering kejang memang berpotensi menderita epilepsi. Tapi jangan khawatir, anak yang menderita epilepsi, kecuali yang lahir dengan kelainan atau gangguan pertumbuhan, bisa tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya. Prestasi belajar mereka tidak kalah dengan anak yang normal.
Jadi, kita tak perlu mengucilkan anak epilepsi karena dia bisa berkembang normal seperti anak-anak lainnya. “Yang penting, ia tertangani dengan baik. Biasanya kalau anak itu sering kejang, dokter akan memberi obat yang bisa menjaganya supaya jangan sampai kejang lagi.
Pada anak epilepsi, fokus perawatannya adalah jangan sampai terjadi kejang lagi. Untuk itu, perlu kontrol, paling tidak setiap 3 bulan agar monitoring dari dokter berjalan terus.”
Perkembangan Bayi Usia 0 – 12 Bulan
Banyak orangtua yang bertanya-tanya: “apakah perkembangan bayi saya normal?”
Setiap bayi berkembang dengan kecepatannya sendiri. Namun, bukan berarti tidak ada pola perkembangan yang berlaku umum. Perbedaan sedikit dalam kecepatan perkembangan adalah hal biasa. Bila perbedaannya cukup besar, mungkin ada yang salah dengan bayi Anda. Berikut adalah pola umum perkembangan bayi dalam 12 bulan pertama yang dapat menjadi tolok ukur bagi bayi Anda:
photo © 2008 Jessica Merz | more info (via: Wylio)Semua
aktivitas bayi masih berjalan secara naluriah atau refleks. Meskipun
bayi dapat melihat, mendengar, membau, meraba, dan merasa, dia belum
mengerti maknanya. Keterampilan komunikasi pertama yang dipelajarinya
adalah menangis. Itulah satu-satunya bentuk komunikasinya dengan dunia luar.
Setiap bayi berkembang dengan kecepatannya sendiri. Namun, bukan berarti tidak ada pola perkembangan yang berlaku umum. Perbedaan sedikit dalam kecepatan perkembangan adalah hal biasa. Bila perbedaannya cukup besar, mungkin ada yang salah dengan bayi Anda. Berikut adalah pola umum perkembangan bayi dalam 12 bulan pertama yang dapat menjadi tolok ukur bagi bayi Anda:
Usia 0-1 bulan
Usia 2 bulan
Walaupun bayi masih beraktivitas secara refleks, kesadaran dirinya mulai terbentuk. Bayi kini mulai melakukan beberapa tindakan sukarela. Pada usia ini, bayi secara otomatis mengepalkan jari-jari tangannya dan terkejut oleh suara keras tiba-tiba. Dia bisa memiringkan kepala dalam beberapa detik dan mengucapkan suara “oooh” dan “aaah”. Dia dapat tersenyum dan mengikuti wajah pengasuhnya dengan matanya sampai sudut maksimum 90°. Meskipun sudah bisa menegakkan kepala, dia belum bisa menjaganya tetap stabil. Bila digendong, bayi Anda harus ditopang kepalanya.Usia 3 bulan
Bayi Anda secara bertahap mengambil alih kendali atas tubuhnya dan hanya sesekali saja mengepalkan tinju. Sekarang dia dapat menggenggam benda secara aktif dengan tangannya. Dia dapat memiringkan kepala saat berbaring dan menahannya untuk sementara. Kepalanya telah dapat dia jaga dengan stabil dan matanya dapat mengikuti gerakan benda ke segala arah. Dia mengenal suara Anda, tersenyum dan merespon Anda dengan suara.Usia 4 bulan
Bayi Anda dapat tersenyum dan tertawa spontan. Dia bisa berbalik sendiri dari posisi telentang ke tengkurap. Dia mulai bisa menahan beban di kaki sehingga sesekali dapat melakukan “push-up”. Dia bisa memindahkan objek dari satu tangan ke tangan yang lain dan mulai mengoceh.Usia 5 bulan
Bayi Anda dapat mengenali warna-warna dan bermain dengan tangan dan kakinya. Dia mungkin sudah mengetahui namanya sehingga bereaksi bila dipanggil. Beberapa bayi sudah bisa duduk untuk beberapa saat.Usia 6 bulan
Bayi Anda akan menengok ke arah suara dan mulai menirukan suara-suara. Kebanyakan bayi sudah dapat berguling ke dua sisi. Beberapa bayi sudah duduk stabil di usia ini.Usia 7 bulan
Kebanyakan bayi sudah bisa duduk stabil. Sebagian bayi sudah dapat merangkak. Dia akan menjulurkan lengannya ke Anda jika ingin diangkat. Dia suka memasukkan segala sesuatu di mulutnya.Usia 8 bulan
Bayi Anda berbicara lebih terstruktur, seperti “ba-ba” dan “da-da”, tapi belum ada maknanya. Beberapa bayi sudah dapat berdiri dengan berpegangan pada sesuatu.Usia 9 bulan
Sebagian besar bayi sudah dapat bangkit sendiri dari posisi duduk untuk berdiri dengan berpegangan. Dia sudah bisa makan dengan tangannya dan meminum dari cangkir dengan bantuan Anda.Usia 10 bulan
Bayi Anda dapat melambaikan tangan untuk “dadah” dan memungut benda dengan jepitan jari-jarinya. Keterampilan merangkaknya sudah sempurna (dengan perut tidak menyentuh lantai). Bayi Anda mungkin sudah memanggil ayah-bundanya, “mama” atau “papa” dengan benar.Usia 11 bulan
Bayi Anda sudah bisa menyampaikan keinginan dengan isyarat. Dia juga memahami beberapa perintah sederhana seperti meminum dot atau menyerahkan sendok. Beberapa bayi sudah bisa berjalan dengan bimbingan dan mengucapkan beberapa kata yang bermakna.Usia 12 bulan
Sebagian besar bayi sudah dapat berbicara sederhana atau berjalan. Jika dia mengembangkan keterampilan berbicara terlebih dahulu, maka kemampuan berjalannya tertinggal. Sebaliknya, bila dia bisa berjalan terlebih dahulu maka keterampilan berbicaranya tertinggal. Bayi perempuan biasanya lebih dulu mengembangkan keterampilan berbicara, namun tidak semuanya demikian.Perkembangan Anak Usia 1 Bulan
Apa yang Terjadi Hingga Usia Bayi 1 Bulan?
Kita perlu mengamati, bagaimana si buah hati tumbuh. Dari sejak bayi pertumbuhan bayi baru lahir sampai dengan usia bayi berumur 1 bulan. Amati ya Bu, bagaimana si bayi tumbuh, baik itu pertumbuhan fisik bayi sudah mulai kelihatan. Bayi sudah tidak terlihat mengkerut lagi. Walaupun kaki bayi masih kelihatan bengkok, kini sang bayi sudah mulai dapat mengangkat kepala sedikit ketika buah hati tengkurap. Tangan bayi masih suka mengepal dan akan menggenggam apapun yang disentuhnya secara otomatis. Ini adalah refleks alami yang dimiliki bayi sejak bayi dilahirkan.Pada umur 1 bulan, bayi sudah mulai menggumam, mengeluarkan suara seperti mendengkur, dan juga berdengung untuk mengungkap perasaannya. Sebagai orang tua, ibu disarankan untuk menanggapi semua yang diungkapkan oleh bayi. Beberapa bayi, bahkan dapat bersuara seperti menjerit dan juga tertawa. Tatap matanya dan bayi akan lebih gembira jika kita berbicara kepadanya. Jangan merasa aneh untuk berbicara dengan bayi, karena ini adalah langkah awal untuk belajar bicara dan memahami kemampuan bahasa bayi.
Seiring dengan bertambahnya usia bayi gerak refleks yang dimiliki bayi saat dia baru lahir akan semakin bertambah. Kini ia bahkan sudah mengerti bahwa ia melakukan sesuatu untuk tujuan tertentu. Misalnya ia akan menendang-nendang ketika dia lapar. Bukankah ini sesuatu yang hebat?
Bermain dan Mengenali Anggota Tubuhnya
Bermain adalah cara terbaik bagi bayi dengan dunia yang baru. Gunakan mainan yang berwarna kontras atau buku-buku tentang wajah bayi. Mainan ini akan menarik perhatian bayi. Coba angkat tangan bayi ke atas kepalanya, hitung jari-jari bayi sembari menyentuhnya untuk mengenalkan kepada anggota tubuh bayi. Si bayi akan mengamatinya. Bayi sudah bisa menggenggam. Jari kelingking kita bisa menjadi mainan favorit bagi bayi. Bayi akan menendang-nendang dan bersuara mengguman yang menandakan dia mengajak kita mengobrol.ASI untuk Si Bayi Umur Satu Bulan
Saat ini kebutuhan bayi akan ASI akan semakin meningkat, sehingga bayi akan sering meminta ibu untuk menyusuinya. Ia akan mudah sekali merasa lapar, sehingga jadwal menyusui yang sudah diatur harus disesuaikan dengan kebutuhan bayi. Imbangi juga kebutuhan menyusui bayi yang terus meningkat, dengan asupan makanan bergizi, agar produksi ASI ibu menjadi lancar dan kesehatan juga menjadi tetap prima.Bagaimana bayi berkomunikasi? Menangis adalah bentuk komunikasi utama dari bayi berumur 1 bulan. Akan tetapi bayi sudah dapat mengeluarkan suara seperti bergumam, mendengkur, berdengung, atau bahkan tertawa ketika dia senang ataupun kenyang. Bila bayi menangis, segeralah untuk menghampirinya, jangan ragu juga untuk menanggapi ocehan bayi. Ada beberapa arti dari tangisan bayi yang dapat dikenali oleh ibu, diantaranya adalah :
- Lapar: Perut bayi sangat kecil sehingga tidak dapat diisi terlalu banyak, sehingga menyebabkan ia cepat lapar. Menangis adalah cara bagi bayi untuk memberitahukan ibu, bahwa ia ingin menyusu.
- Sakit: Ketika hidung bayi tersumbat disebabkan flue, peruta kembung, kolik atau demam, bayi akan menangis. Periksa panas badan bayi, segera bawa ke dokter untuk tindakan lebih lanjut.
- Popok Basah/Kotor: Jika popok bayi basah atau kotor, bayi akan merasa tidak nyaman, sehingga dia akan menangis.
- Kaget: Bayi akan merasa kaget / terkejut apabila mendengar suara keras atau gerakan yang tiba-tiba.
- Bosan: Bayi akan menangis jika dia merasakan bosan, segera gendong atau timang bayi untuk segera menenangkannya kembali.
Perkuat Ikatan Batin dengan Bayi Ibu
Bayi akan senang jika ibunya berada di dekatnya. Gerakan kaki dan tangan bayi dengan lembut dan terus lakukan dengan memijat untuk mendekatkan hubungan kita dengan bayi. Peluklah bayi dengan erat ketika sedang menyusui, timang-timang dan gendong sambil diajak untuk berbicara dengan suara yang lembut sehingga bayi merasa dicintai dan juga dilindungi. Kedekatan fisik dapat membantu memperkuat ikatan batin dengan bayi.Perkembangan Penglihatan Bayi Ibu
Pada usia satu bulan, penglihatan bayi sudah mulai berkembang. Walaupun masih sangat terbatas tapi saat ini ia sudah dapat berinteraksi dengan lingkungan. Bayi sudah dapat menatap wajah ibu dan melotot. Bayi juga sudah mulai tertarik terhadap benda-benda bergerak dan wajah kita. Ajaklah bayi untuk bermain dengan mainan-mainan yang berbunyi dapat membantu kita untuk melakukan permainan. Gerakan mainan yang berbunyi di dekat mata bayi, gerakan ke kiri dan ke kanan, atau ke atas dan ke bawah, mendekat dan menjauh. Bukankah gampang?Setiap Bayi Berbeda Satu Sama Lain
Yang perlu diingat adalah bahwa setiap bayi berbeda antara satu dengan yang lain. Tahap-tahap perkembangan dan pencapaian yang berhasil dicapai oleh bayi mungkin akan berbeda. Jadikan tahap pencapaian sebagai panduan, akan tetapi jangan khawatir apabila bayi kita sedikit terlambat.8 Cara Cerdas Memanjakan Anak
Penelitian menyebutkan bahwa, memanjakan bayi akan membuat
bayi lebih cerdas dan pintar. Hasil penelitian Por. Darcia Narvaes dan tim dari
Fakultas Psikologi Universitas Notre Dame Amerika Serikat menyebutkan bahwa,
dengan memanjakan bayi secara tepat, maka potensi perkembangan otaknya akan
lebih baik, sehingga ia tumbuh lebih cerdas. Nah 8 cara memanjakan bayi yang akan membuat bayi cerdas
adalah sebagai berikut :
- Bayi merasa aman, nyaman, terlindungi, merasa
disayangi, dekat dan lainnya. Dan tidak mengherankan ketika bayi menangis
karena kesepian, ketakutan, kaget ataupun penyebab lain, dia akan berhenti
menangis ketika dia digendong.
-
Banyak hal dapat dilakukan oleh orang tua ketika
menggendong bayi, diantaranya adalah bayi diajak komunikasi, bermain,
dikenalkan dengan hal baru, melihat ekspresi wajah dan lain sebagainya.
-
Bagi bayi yang sering digendong maka akan lebih
banyak mengenal lingkungan sekitarnya.
Karena biasanya bayi akan digendong ke dapur, ruang tengah, teras,
halaman, taman perumahan dan lainnya. Jika
tidak sering digendong, maka bayi hanya akan melihat langit-langit kamar atau
gantunganan di boks bayi. Dengan melihat
beragam lingkungannya, maka wawasan anak akan lebih meningkat
-
Bayi yang sedang digendong dapat mendukung
pemberian ASI ekslusif. Di samping selalu berdekatan, jalinan kedekatan dengan
ibunya juga terus bertambah. Demikian
juga dengan rasa sayang dan perhatian, hal tersebut akan membuat ibu semakin
keras berusaha memberikan sesuatu yang terbaik bagi anaknya yakni ASI
eksklusif.
-
Walaupun menggendong mempunyai dampak positif,
tetapi jangan lupa juga berikan kesempatan bagi bayi untuk mengangkat kepala,
berguling, tengkurap, duduk dan berjalan.
Lakukan hal tersebut sesuai dengan umur dan kemampuan bayi. Orang tua
mempunyai waktu istirahat untuk melakukan kegiatan ini.
2. Pelukan.
Pada awal bulan kelahirannya, bayi akan menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Saat bayi masih dalamkandungan, kehangatan dan kedamaian didapatkannya dalam rahim ibu yang hangat dan nyaman. Ketika dia terlahir ke dunia, bayi mendambakan kehangatan dan kenyamanan lewat pelukan.
Ketika orang tua memeluk sang bayi, bayi akan merasa aman, nyaman dan terlindungi. Bayi akan merasa senang dan menikmati pelukan ibunya. Karena itu, pelukan pun menjadi kebutuhan bayi, sehingga saat kebutuhan itu datan, bayi akan mengeluarkan tanda berupa tangisan dan rengekan.
Sebagai orang tua tidak perlu takut saat memaluk bayi akan membuatnya manja. Kedekatan dan kehangatan antara orang tua dan bayi sangat penting bagi kedekatan emosinya. Pelukan adalah salah satu cara untuk menunjukkan kasih sayang. Pelukan juga merupakan kedekatan fisik yang menunjukkan pula kedekatan emosi yang dalam. Ada ahli yang mengatakan bahwa pelukan dapat menurunkan rasa cemas, takut, kesepian dan emosi negatif lainnya serta berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan anak. Hal ini ketika anak dipeluk, anak akan mengeluarkan hormon oksitosin yang menenangkan anak dan mengurangi stress.
3. Tidur bersama.
Sebuah penelitian menyatakan bahwa tidur bersama dalam satu ranjang dipercaya dapat membangun ikatan emosi yang kuat antara orang tua dan bayi. Hal ini akan membuat bayi tidur dengan tenang. Akan tetapi tidur bersama bukan merupakan keharusan. Hal ini dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan rumah dan kondisi orang tua itu sendiri.
Ketika bayi berumur enam bulan pertama, disarankan agar bayi tidur bersama dengan orang tua. Karena masa ini adalah pemberian ASI ekslusif. Dengan tidur dekat dengan orang tua dapat menyesuaikan pemberian ASI ekslusif, sekaligus dapat menjalin kedekatan antara ibu dan bayi. Bahkan anjuran untuk tidur bersama tidak hanya untuk bayi berusia 6 bulan akan tetapi bayi berusia di atasnya, bahkan sampai ke anak.
4. Menjalin komunikasi.
Ketika ibu menggendong bayi, tataplah mata bayi. Ajak si bayi dengan kata-kata lembut dan kata-kata positif. Ceritakan apa yang ada di sekilingna, misalnya, suara apa yang didengar bayi, benda apa yang dilihat. Katakan pada bayi apa yang sedang dikerjakan, misalnya katakan pada bayi ketika sedang mengganti popok karena si dia mengompol. Mengajak bayi berbicara akan membantu kecerdasan bayi dalam berbahasa. Dan ini sekaligus menjadi bentuk perhatian orang tua kepada bayinya. Semakin banyak komunikasi terjalin, maka akan semakin dekat hubungan orang tua dan bayi.
5.
Berikan fasilitas terbaik.
Orang tua hendaknya memenuhi kebutuhan bayi seperti kebutuhan pangan, sandang juga papan. Fasilitas tersebut hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan tahapan perkembangan bayi. Kebutuhan sandang bayi meliputi baju, popok, kaus kaki, sarung tangan, topi, selimut, handuk dan lainnya. Untuk kebutuhan pangan seperti ASI, makanan pendamping ASI, biskuit, buah, sayuran, dan lainnya. Kebutuhan papan bayi seperti berkaitan dengan tempat tinggal, termasuk ruang tidur dan berbagai benda yang berguna untuk menstimulasi bayi seperti mainan edukasi.
Berikanlah fasilitas bayi sesuai dengan perkembangan dan kondisi si bayi. Untuk kebutuhan sandang misalnya pilih bahan lembut seperti katun atau kaus yang dikhususkan bayi baru lahir karena kulit bayi masih sangat halus dan sensitif. Sesuaikanlah kebutuhan bayi dengan perkembangannya.
Orang tua hendaknya memenuhi kebutuhan bayi seperti kebutuhan pangan, sandang juga papan. Fasilitas tersebut hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan tahapan perkembangan bayi. Kebutuhan sandang bayi meliputi baju, popok, kaus kaki, sarung tangan, topi, selimut, handuk dan lainnya. Untuk kebutuhan pangan seperti ASI, makanan pendamping ASI, biskuit, buah, sayuran, dan lainnya. Kebutuhan papan bayi seperti berkaitan dengan tempat tinggal, termasuk ruang tidur dan berbagai benda yang berguna untuk menstimulasi bayi seperti mainan edukasi.
Berikanlah fasilitas bayi sesuai dengan perkembangan dan kondisi si bayi. Untuk kebutuhan sandang misalnya pilih bahan lembut seperti katun atau kaus yang dikhususkan bayi baru lahir karena kulit bayi masih sangat halus dan sensitif. Sesuaikanlah kebutuhan bayi dengan perkembangannya.
6. Respons tangisan dengan tepat.
Menangis adalah cara bayi mengatakan apa yang dialaminya kepada orang-orang di sekitarnya. Menangis terjadi ketika bayi merasa lapar, haus, marah atau tidak nyaman. Karenanya ketika si bayi menangis segeralah memberinya respons. Merespons kebutuhan bayi sama saja dengan memenuhi kebutuhan si bayi. Apabila kebutuhannya terpenuhi, maka akan tumbuh rasa percaya diri pada orang tua dan lingkungannya.
Agar respons yang diberikan tepat, maka orang tua wajib mengenali kebutuhan bayi dengan terus berinteraksi dengannya, mengantisipasi kebutuhan bayi dan kemudian memenuhinya. Bersikap tenang ketika bayi menangis adalah salah satu cara yang membuat bayi nyaman. Bereaksi tepat saat bayi menangis juga sama pentingnya. Sebab reaksi untuk bayi yang menangis karena lapar akan berbeda dengan reaksi bayi karena sakit ataupun kesepian.
Kita harus mengenali juga apa yang bayi sukai dan tidak disukainya, terutama yang membuat bayi merasa nyaman, marah dan menangis. Selama respons yang diberikan orang tua adalah tepat, orang tua tidak perlu mengkhawatirkan bahwa apa yang mereka lakukan akan membuat si bayi manja.
7. Stimulasi tepat.
Stimulasi adalah sebuah cara untuk mendorong atau memaksimalkan tumbuh kembang anak. Stimulasi sangat baik jika dilakukan sejak dini, bahkan sejak anak berada dalam kandungan kemudian dilanjutkan ketika bayi dilahirkan. Tujuan pemberian stimulasi adalah untuk memaksimalkan tumbuh kembang si anak.
Dalam setiap rentang perkembangannya, ada beberapa aspek yang perlu distimulasi. Untuk bayi yang baru lahir, alangkah baiknya jika dititikberatkan pada pengembangan kemampuan panca indranya. Sebagai contoh, gunakan mainan berwarna yang digantung kurang lebih 30 cm untuk menstimulasi penglihatan.
Untuk bayi 2-4 bulan, bayi sudah mampu untuk berguling dan mengangkat kepala. Gunakan stimulasi dengan memanfaatkan mainan berbunyi yang diletakkan di sisi bayi agar mau berguling. Langkah selanjutnya, letakkan mainan di depannya agar bayi tersebut berusaha untuk meraihnya.
Untuk usia bayi 6-8 bulan, bayi sudah mulai mampu berdiri dan merambat. Untuk menstimulasinya, gunakan pembatas atau playpen yang dibuat dari alumunium atau kayu dengan jarak tertentu, sehingga tidak membahayakan dan dapat dimanfaatkan untuk bermain dan juga sebagai rambatan.
Untuk usia 9-12 bulan, bayi sudah mulai berjalan. Ajaklah bayi untuk berjalan berkeliling di sekitar lingkungan terdekatnya di pagi dan sore hari, sekaligus mengembangkan ketrampilan berjalan.
Lakukan komunikasi dan kontak mata
ketika menstimulasi bayi. Dengan demikian,
orang tua dan bayi akan bisa berlangsung lebih erat, sekaligus juga untuk
mengetahui respons bayi. Manfaatkan mainan atau berbagai benda yang ada di
sekitarnya. Ketika stimulasi sedang
berlangsung, pastikan anak sedang dalam kondisi sehat, cukup tidur, dan juga
cukup makan. Lebih baik lagi dilakukan
sambil bermain atau juga melakukan kegiatan sehari-hari.
8. Nutrisi tepat.
Nutrisi sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Nutrisi yang tepat tidak hanya membuat anak menjadi sehat, akan tetapi menjadikannya cerdas. Bahkan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan dan tahapan perkembangan bayi.
Untuk bayi baru lahir, utamanya adalah ASI. Selanjutnya, setelah berusia enam bulan dapat mengonsumsi MPASI. Berikan MPASI sesuai dengan prinsip gizi cukup dan seimbang. Pilih makanan yang aman dan hindari makanan yang berisiko mencetuskan alergi seperti telur, ikan dan lainnya.
6 Kunci Sukses Menjadi Orang Tua yang Baik
Hal yang
sangat penting bagi orang tua adalah bahwa semua ajaran yang diberikan pada
anak-anaknya akan memotivasi anak secara alami dan menumbuhkan rasa percaya
diri dan menghargai diri sendiri. Ajaran-ajaran yang diberikan orang tua oleh
kedua orang tua juga akan membuat anak-anak merasa diperhatikan dan kasih
sayang yang cukup dari kedua orang tuanya.
Apabila anak sudah mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup
dari orang tuanya, maka orang tua tidak perlu khawatir anak-anak mereka
terlibat dengan kumpulan gangster, drugs, dan kenakalan remaja lainnya.
Informasi
berikut adalah kunci sukses menjadi orang tua yang baik :
Natural consequences yang dimaksud di sini adalah dengan
membiarkan anak untuk mendapatkan akibat dari yang akan dihadapinya, jika si
anak melakukan sesuatu yang menjadi pilihannya. Contohnya adalah tatkala anak
lupa untuk membawa bekal untuk makan siangnya, ibu tidak perlu untuk
membawakannya bekal. Dan jadikan pengalaman
ini sebagai sebuah pelajaran bahwa mengingat sesuatu itu sangatlah penting,
jangan sampai lupa.
Utamakan perbuatan bukan ‘kata’
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa dalam 24 jam orang
tua memberikan 2000 perintah. Cara
memerintah yang baik adalah dengan memberikan contoh perilaku dan perbuatan
yang seharusnya dilakukan oleh anak.
Misalnya jangan hanya memerintahkan anak untuk membersihkan sepatu
setelah memakainya. Ibu atau orang tua
dapat memberitahukan bagaimana cara merapikan sepatu yang baik kepada sang buah
hati.
GEMS (Genuine Encounter Moments)
GEMS adalah salah satu dari kunci sukses
menjadi orang tua yang baik, karena hasilnya anak akan merupakan
salah satu kunci sukses menjadi orang tua yang baik karena sang anak akan
mendapatkan rasa untuk menghargai diri sendiri dari adanya kualitas waktu yang
dihabiskan oleh kedua orang tuanya untuk bergaul dan berkomunikasi secara
langsung dengan sang anak. Waktu yang berkualitas yang
dimanfaatkan orang tua dengan anaknya lebih utama dibandingkan dengan dengan
banyaknya waktu waktu yang dihabiskan bersama anak.
Jadilah orang tua yang konsisten
Orang tua
harus memberikan contoh yang konsisten kepada anak. Sebagai contoh, ketika
orang tua tidak dapat membelikan permen untuk anaknya, orang tua tidak perlu
memberikan janji bahawa sang ibu / ayah akan membelikan permen.
Biarkan anak merasa ‘kuat’ (powerful)
Kunci sukses menjadi orang tua berikutnya adalah
dengan membiarkan anak mempunyai kekuatan di dalam mengambil keputusan, dan
mempunyai pilihan, dan lain sebagainya.
Contohnya adalah membiarkan anak untuk memilih menu makanan yang akan di
bawa ke sekolah atau membantu sang ibu untuk membantu berbelanja. Akan tetapi
pengawasan sepenuhnya tetap ada di tangan orang tua.
Menghindari Konflik dengan anak
Langganan:
Postingan (Atom)


